MAKASSAR, KETIK NALAR – Tidak ada yang menduga bahwa salah satu jajanan paling ikonik dari Bandung lahir bukan dari resep turun-temurun, melainkan dari masalah sederhana: dagangan yang tidak habis terjual. Di tangan seorang pedagang bernama Ihsan, sisa bakso tahu yang tak laku justru menjadi titik awal sebuah kuliner legendaris yang kini dikenal di seluruh penjuru Indonesia.
Kisah ini bermula di Bandung pada penghujung dekade 1960-an. Kota kembang sedang tumbuh pesat. Aktivitas perdagangan menggeliat, dan makanan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan urban yang terus bergerak. Di tengah denyut kota itulah para pedagang kecil mencari celah penghidupan, termasuk Ihsan, seorang perantau asal Purwokerto, Jawa Tengah, yang memilih Bandung sebagai tempat mengadu nasib.
Sekitar tahun 1968, Ihsan mulai berjualan makanan dengan cara yang paling sederhana. Ia menjual bakso tahu kukus — makanan yang belum punya nama khusus, belum punya ciri khas yang membedakannya dari sajian lain. Ia berdagang di kawasan Gang Situur, sekitar Kopo, Bandung. Tempat itu bukan pusat keramaian. Hanya gang kecil, dengan pembeli yang tidak selalu datang setiap hari.
Sebagai pedagang, Ihsan menghadapi ketidakpastian yang akrab: dagangan yang sudah disiapkan belum tentu habis. Makanan yang tersisa tidak bisa dibiarkan begitu saja, karena besok sudah tidak layak jual. Di sinilah masalah kecil itu memunculkan solusi yang tidak disengaja.
Suatu hari, bakso tahu kukus milik Ihsan masih bersisa cukup banyak. Bukannya menyerah, ia mencoba sesuatu yang berbeda. Bakso tahu yang biasanya dikukus itu ia celupkan ke dalam minyak panas dan digoreng satu per satu. Tidak ada rencana besar di balik tindakan itu. Tidak ada eksperimen kuliner yang terencana. Hanya upaya sederhana agar sisa makanan tidak terbuang sia-sia.
Hasilnya mengejutkan. Permukaan bakso tahu berubah, menjadi lebih kering dan renyah di luar, sementara bagian dalamnya tetap lembut dan gurih. Tekstur yang berbeda itu menghasilkan pengalaman makan yang sama sekali baru. Makanan yang awalnya hanya dikukus kini memiliki kerenyahan yang tidak pernah ada sebelumnya.
Ihsan tidak langsung menjualnya. Ia membagikan bakso tahu goreng itu kepada tetangga di sekitar tempat tinggalnya. Respons yang muncul tidak ia duga: keesokan harinya, tetangga-tetangga itu kembali datang dan menanyakan makanan yang sama. Makanan yang lahir dari sisa dagangan itu ternyata memiliki daya tarik tersendiri.
Permintaan dari tetangga menjadi sinyal penting bagi Ihsan. Ia menangkap sesuatu yang belum pernah terpikirkan sebelumnya: bahwa cara menggoreng itu bukan sekadar solusi darurat, melainkan bisa menjadi metode memasak yang punya nilai jual. Sejak saat itu, bakso tahu goreng tidak lagi dibuat karena ada sisa, melainkan sengaja disiapkan untuk dijual kepada pembeli.
Makanan baru ini membutuhkan nama. Dalam kesederhanaan dan kepraktisan khas pedagang kaki lima, nama pun lahir dari akronim: BA dari bakso, TA dari tahu, dan GOR dari digoreng. Jadilah kata “Batagor” — singkat, mudah diucapkan, dan langsung menggambarkan bahan serta cara memasaknya. Nama itu melekat dan tidak pernah lepas hingga hari ini.
Seiring semakin seringnya dibuat, batagor mulai memiliki karakter yang lebih jelas. Bukan hanya soal cara memasak, tetapi juga soal cara penyajian. Potongan batagor disajikan bersama saus kacang yang kental, kecap manis, dan perasan jeruk limau. Kombinasi rasa gurih, manis, asam, dan pedas itu menjadi identitas sajian yang kemudian sangat erat dikaitkan dengan Bandung.
Dari satu gang kecil, cerita tentang batagor menyebar dari mulut ke mulut. Pembeli yang puas membawa kabar ke lingkungan mereka. Perlahan, batagor meninggalkan lingkaran pelanggan pertamanya dan mulai dikenal lebih luas di Bandung. Pedagang lain pun mulai ikut menjual, membuat batagor semakin mudah ditemukan di berbagai sudut kota.
Bandung pada era itu memang sedang mengalami pertumbuhan dalam kehidupan kulinernya. Warung, jajanan, dan pedagang kaki lima menjadi bagian dari lanskap kota. Dalam suasana itulah batagor tumbuh bukan sebagai makanan elite, melainkan sebagai jajanan merakyat yang mudah dijangkau dan mudah dinikmati oleh siapa saja.
Popularitas batagor tidak berhenti di Bandung. Seiring mobilitas masyarakat yang semakin tinggi, makanan ini ikut berpindah dan diperkenalkan ke kota-kota lain di Indonesia. Namanya sudah terlanjur melekat dengan Bandung, sehingga menyebut batagor berarti menyebut Kota Kembang. Kuliner ini menjadi semacam duta tak resmi yang membawa nama Bandung ke berbagai penjuru Nusantara.
Dalam perkembangannya, batagor mengalami berbagai variasi. Ada yang menggunakan isian ikan tenggiri, ada yang memakai campuran udang, ada yang disajikan dalam potongan besar atau kecil. Tempat jualnya pun beragam, dari gerobak kaki lima, warung sederhana, hingga restoran modern. Namun satu hal tidak berubah: batagor adalah makanan yang digoreng, dan itulah ciri khasnya yang tidak bisa digantikan.
Hari ini, batagor bukan sekadar makanan. Ia adalah bagian dari ingatan kolektif banyak orang tentang Bandung, tentang jajan di pinggir jalan, tentang rasa yang sudah akrab sejak kecil. Di balik sepiring batagor yang tersaji rapi dengan siraman saus kacang, ada kisah tentang seorang pedagang dari gang sempit, sisa dagangan yang hampir terbuang, dan sebuah keputusan sederhana yang mengubah segalanya.
Dari ketidaksengajaan, lahirlah sebuah kuliner. Dari satu gerobak di Bandung, lahirlah ikon jajanan Nusantara. Batagor adalah bukti bahwa inovasi tidak selalu butuh laboratorium — kadang cukup dengan sepanci minyak panas dan keberanian mencoba hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya.




Tinggalkan Balasan