PIDIE, KETIK NALAR – Di balik ketenaran Kopi Gayo yang sudah melanglang buana ke pasar internasional, tersimpan sebuah rahasia yang selama ini dijaga oleh lembah-lembah perbukitan Pidie. Namanya Kopi Tangse—sebuah permata yang belum banyak dikenal, namun cita rasanya mampu membuat siapa pun yang pernah mencicipinya langsung jatuh hati.
Tangse bukan sekadar nama kecamatan di Kabupaten Pidie, Aceh. Ia adalah hamparan tanah vulkanis yang subur, dibalut udara sejuk pegunungan pada ketinggian 600 hingga 1.200 meter di atas permukaan laut. Kombinasi geografis inilah yang menjadi “tangan tak kasat mata” di balik karakter rasa kopi yang dihasilkan dari wilayah ini—dalam, kompleks, dan sulit dilupakan.
Yang membuat Tangse benar-benar luar biasa adalah fakta langka yang jarang dimiliki daerah lain: dalam satu kawasan, tumbuh tiga varietas kopi sekaligus. Arabika, robusta, dan liberika—ketiganya hadir berdampingan, masing-masing membawa kepribadian rasa yang berbeda dan saling melengkapi.
Arabika Tangse dikenal dengan keasaman yang bersih dan aroma buah atau rempah yang khas. Ini bukan asam yang menyengat, melainkan asam yang segar dan memanjakan lidah. Bagi penikmat kopi yang terbiasa dengan single origin berkualitas tinggi, arabika Tangse adalah pengalaman yang tak mudah tergantikan.
Robusta Tangse hadir dengan karakter yang berbeda: body tebal, rasa pahit yang solid, dan ada sentuhan cokelat alami yang muncul samar-samar di setiap tegukan. Varietas ini adalah pilihan sempurna bagi mereka yang menyukai kopi hitam pekat tradisional—kopi saring atau kopi susu ala warung kopi Aceh yang legendaris.
Namun justru liberika-lah yang menjadi incaran para pemburu kopi serius. Liberika Tangse tergolong langka, bahkan di skala nasional sekalipun. Aromanya mengingatkan pada buah nangka yang matang—unik, eksotis, dan sama sekali tidak biasa. Kadar kafeinnya pun lebih rendah dibandingkan robusta, menjadikannya pilihan menarik bagi mereka yang ingin menikmati kopi tanpa khawatir berlebihan mengonsumsi kafein.
Di tengah kekayaan varietas ini, berdiri sebuah usaha yang menjadi ujung tombak promosi kopi Tangse: Kupi Kahwa, sebuah UMKM yang dikelola oleh Muhammad Syarweni dari Desa Pulau Kawa, Kecamatan Tangse. Nama “Kahwa” sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti kopi—sebuah pilihan nama yang mencerminkan kedalaman akar budaya dan rasa hormat terhadap tradisi perkopian yang sudah mengakar di Aceh.
Usaha ini sesungguhnya bukan barang baru. Fondasi produksi kopi di keluarga Syarweni telah dirintis sejak tahun 1986 oleh sang ayah, yang kala itu memfokuskan diri pada produksi bubuk kopi untuk kedai-kedai tradisional. Pada 2016, tongkat estafet berpindah ke tangan Muhammad Syarweni yang kemudian mengembangkan usaha dengan berbagai inovasi produk dan kemasan.
Transformasi yang dilakukan Syarweni bukan sekadar ganti baju. Ia mempertahankan keaslian rasa kopi Tangse yang khas, sambil perlahan mengangkat standar kemasan dari yang ekonomis menuju tampilan premium yang lebih siap bersaing di pasar yang lebih luas. Sebuah langkah kecil yang mencerminkan visi besar.
Proses produksi Kupi Kahwa tetap setia pada cara tradisional yang telah teruji waktu. Biji kopi dipetik langsung dari kebun-kebun di dataran tinggi Tangse, kemudian melewati proses pembersihan dan pengeringan yang teliti. Proses roasting dilakukan dengan kapasitas sekitar 50 hingga 60 kilogram per batch, dengan durasi sekitar satu jam hingga satu setengah jam—cukup waktu untuk mengubah biji hijau yang sederhana menjadi butiran cokelat harum yang siap digiling.
Yang membedakan kopi saring khas Tangse dengan kopi saring dari daerah lain terletak pada teknik memasaknya. Biji yang sudah disangrai dimasak dalam cawan besar, diaduk dengan penuh kesabaran, sebelum kemudian memasuki tahap pendinginan dan penggilingan. Hasilnya adalah kopi dengan karakter rasa yang sangat khas—pekat, legit, dan tahan lama hingga dua bulan.
Kupi Kahwa kini memproduksi beragam lini produk: kopi saring tipe standar yang khas Tangse, kopi saring premium, kopi tebruk robusta murni, kopi tebruk arabika, hingga kopi tebruk liberika yang menjadi primadona. Ada pilihan kopi murni tanpa campuran dan ada pula kopi campuran, masing-masing hadir dalam kemasan yang disesuaikan dengan segmen pasar yang berbeda.
Kapasitas produksi bulanan Kupi Kahwa telah mencapai 700 hingga 800 kilogram—angka yang cukup membuktikan bahwa kopi Tangse bukan sekadar produk nostalgia, melainkan komoditas yang punya pasar nyata. Distribusinya saat ini menjangkau kedai-kedai kopi dan warung di seputaran Pidie, termasuk kedai-kedai di depan Terminal Beureunuen. Pemesanan online pun sudah bisa dilakukan melalui Instagram dan TikTok.
Selain memproduksi kopi dalam kemasan, Kupi Kahwa juga mengelola sebuah kedai fisik bernama Dapu Kupi Kahwa—sebuah warung kopi yang kini menjelma menjadi destinasi favorit, baik bagi masyarakat lokal maupun wisatawan yang melintasi kawasan Tangse. Di sini, pengunjung bisa menikmati secangkir kopi panas langsung dari tempat produksinya, sambil merasakan udara sejuk pegunungan yang membelai kulit.
Duduk di warung ini, dengan pohon kopi tumbuh di sekelilingnya, adalah pengalaman yang sulit dicari di tempat lain. Bukan sekadar minum kopi, melainkan merasakan keseluruhan ekosistemnya—dari tanah tempat pohon tumbuh, tangan petani yang memetik, hingga cangkir yang mengepulkan aroma di hadapan Anda.
Tantangan terbesar kopi Tangse saat ini memang bukan pada kualitas—soal itu ia sudah unggul—melainkan pada promosi dan distribusi yang belum semasif kopi Gayo. Namun justru di sinilah letak pesonanya: kopi Tangse masih terasa eksklusif, masih terasa seperti penemuan pribadi yang berharga. Dan bagi para pecinta kopi sejati, menemukan single origin yang unik seperti ini adalah kepuasan tersendiri yang tak ternilai.
Kopi Tangse sedang dalam perjalanannya. Pelan, tapi pasti, namanya mulai dikenal. Dan bagi siapa pun yang ingin merasakannya sebelum dunia ramai membicarakannya, pintu Dapu Kupi Kahwa di Kecamatan Tangse selalu terbuka.




Tinggalkan Balasan