MAKASSAR, KETIK NALAR – Selembar uang kertas bisa menjadi benda langka hanya karena satu hal: tanda tangan pejabat yang sudah tidak lagi menjabat. Itulah yang kini terjadi dengan uang rupiah cetakan 2026 yang memuat tanda tangan Purbaya Yudi Sadewa sebagai Menteri Keuangan — sebuah koleksi yang mendadak menjadi incaran para numismatis di seluruh Indonesia.
Uang yang menjadi perbincangan hangat ini adalah pecahan Rp100.000 dan Rp50.000 dengan tahun cetak 2026. Di bagian muka kedua pecahan tersebut, tertera dua tanda tangan pejabat negara: tanda tangan mantan Gubernur Bank Indonesia Periwarjio, dan tanda tangan Menteri Keuangan saat itu, Purbaya Yudi Sadewa.
Kombinasi dua tanda tangan inilah yang membuat uang tersebut istimewa di mata para kolektor.
Kehebohan ini pertama kali mencuat di komunitas pencinta uang atau numismatis. Pada 9 September 2026, sebuah unggahan di media sosial menampilkan foto uang pecahan Rp100.000 edisi 2026 yang memuat tanda tangan Purbaya dan Periwarjio secara bersamaan. Unggahan itu langsung viral dan memicu gelombang perhatian dari netizen maupun kalangan kolektor profesional.
Sejak saat itu, perburuan uang dengan kombinasi tanda tangan tersebut pun dimulai.
Alasan di balik tingginya minat ini cukup sederhana namun bermakna bagi dunia numismatik: Purbaya Yudi Sadewa tidak lagi menjabat sebagai Menteri Keuangan. Ia resmi menyerahkan tongkat jabatannya kepada penggantinya pada 15 September 2026. Artinya, masa beredar uang dengan tanda tangannya sangat singkat — hanya dalam rentang waktu yang sempit antara uang tersebut mulai diedarkan hingga ia lengser dari jabatannya.
Masa jabatan Purbaya sebagai Menteri Keuangan pun terbilang singkat, hanya sekitar satu tahun.
Dalam dunia numismatik, kelangkaan adalah segalanya. Semakin pendek masa beredar sebuah uang, semakin tinggi nilai koleksinya di kemudian hari. Uang yang bertanda tangan pejabat dengan masa jabatan singkat secara otomatis memiliki jumlah yang lebih terbatas di pasaran, karena produksi dan distribusinya pun tidak sempat berlangsung lama.
Prinsip inilah yang mendorong para kolektor untuk bergerak cepat.
Fenomena serupa sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Uang kertas dengan tanda tangan pejabat tertentu kerap menjadi buruan kolektor, terutama bila pejabat tersebut menjabat dalam waktu singkat atau meninggalkan jabatan dalam situasi yang tidak biasa. Nilai historis dan kelangkaan menjadi dua faktor utama yang menentukan harga sebuah uang koleksi di pasar numismatik.
Bagi masyarakat awam, uang rupiah mungkin sekadar alat transaksi sehari-hari. Namun bagi komunitas kolektor, setiap detail pada selembar uang kertas — mulai dari tahun cetak, nomor seri, kondisi fisik, hingga tanda tangan pejabat — memiliki arti tersendiri yang bisa bernilai jauh melampaui nilai nominalnya.
Uang pecahan Rp100.000 bertanda tangan Purbaya yang beredar ini, misalnya, berpotensi diperdagangkan di atas nilai nominalnya di pasar kolektor — tergantung pada kondisi fisik lembaran, nomor seri yang dianggap unik, serta seberapa banyak uang serupa yang berhasil ditemukan.
Para kolektor biasanya memburu uang dalam kondisi uncirculated atau belum pernah digunakan sama sekali, karena kondisi fisik yang mulus menjadi salah satu penentu nilai jual tertinggi.
Tren perburuan ini juga mencerminkan bagaimana masyarakat Indonesia semakin menaruh perhatian pada hobi numismatik. Komunitas pencinta uang kuno dan uang koleksi terus berkembang, didukung oleh kemudahan berbagi informasi melalui media sosial yang memungkinkan satu unggahan menjangkau ribuan penggiat hobi dalam sekejap.
Unggahan pada 9 September 2026 itu menjadi bukti nyata betapa cepatnya informasi menyebar dan memicu gelombang minat kolektif.
Saat ini, tidak sedikit orang yang mulai memeriksa kembali dompet atau laci meja mereka, siapa tahu menyimpan uang cetakan 2026 dengan tanda tangan Purbaya. Bagi yang beruntung menemukannya dalam kondisi baik, uang tersebut mungkin saja menjadi aset koleksi yang nilainya terus bertambah seiring waktu.
Di tengah pergantian pejabat dan dinamika pemerintahan, terkadang justru selembar uang kertas yang menjadi saksi bisu sejarah yang paling dicari.




Tinggalkan Balasan