JAKARTA, KETIK NALAR – Sebelum pemerintah ramai membicarakan Makan Bergizi Gratis, seorang pria bernama Aditya Prayoga sudah lebih dulu melakukannya—tanpa anggaran negara, tanpa kotak donasi, dan tanpa nomor rekening yang ditempel di dinding.

Sejak 2016, Aditya memulai gerakan sederhana dari kantong sendiri. Kala itu, ia hanya mampu menyiapkan 30 hingga 50 porsi makanan setiap hari untuk dibagikan kepada warga sekitar. Tidak ada target besar, tidak ada rencana ekspansi. Yang ada hanya niat berbagi dan komitmen untuk konsisten—setiap hari, tanpa jeda.

Kini, hampir satu dekade berselang, gerakan kecil itu telah berkembang menjadi enam rumah makan gratis yang tersebar di Depok, Bogor, dan Jakarta. Masing-masing cabang menyajikan 300 porsi makanan per hari, dengan menu yang terus berputar—nasi, lauk, sayuran—tanpa pernah mematok harga sepeser pun kepada siapa yang datang.

Yang menarik, Aditya tidak hanya mengelola warung makan. Di sisi rumah makan gratisnya berdiri masjid yang ia bangun sendiri, sekolah gratis, rumah singgah, dan bahkan fasilitas yang ia sebut sebagai “hotel bintang tiga gratis.” Ada pula program menghafal Al-Qur’an dan layanan pernikahan tanpa biaya. Semua dirancang dengan filosofi yang sama: untuk Allah, bukan untuk sorotan kamera.

“Kami tidak pasang kotak donasi, tidak tempel nomor rekening. Kami tidak ingin terkenal. Yang kami harap hanya rida Allah,” ujar Aditya saat menjadi narasumber dalam program Sapa Indonesia di Kompas TV, bersama Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priono.

Sumber pendanaan Aditya terbilang unik dan tidak bergantung pada donasi terstruktur. Ia menjalankan sejumlah usaha mandiri—berjualan gorengan, martabak, hingga permen kaligrafi bertuliskan nama Nabi Muhammad—dan hasil keuntungannya dialirkan langsung ke dapur rumah makan gratis. Jika stok beras menipis, ia cukup mengunggah pengumuman di Instagram. Dalam hitungan jam, donasi bahan makanan mulai berdatangan dari pengikut setianya di media sosial.

Biaya operasional satu cabang bisa menyentuh Rp 3 juta per hari, dengan estimasi harga makanan sekitar Rp 15.000 hingga Rp 20.000 per porsi. Sebuah angka yang kontras dengan kebijakan pemerintah yang menetapkan anggaran Makan Bergizi Gratis sebesar Rp 10.000 per porsi—turun dari rencana awal Rp 15.000.

Perbandingan angka itu menjadi obrolan menarik di studio. Aditya bahkan menyebut bahwa dengan Rp 10.000, ia mampu menyeduh teh Tobrong hangat untuk 30 petugas kebersihan setiap pagi—sebuah gestur kecil yang, baginya, tetap bermakna besar.

Pemerintah sendiri mematok anggaran Rp 71 triliun untuk program MBG yang mulai berjalan pada 2 Januari 2025, dengan target menyentuh 82,9 juta penerima manfaat hingga 2029. Sasaran program mencakup ibu hamil, ibu menyusui, balita, peserta didik, hingga kelompok masyarakat miskin. Berdasarkan data BPS per Februari 2024, dari total 282,4 juta penduduk Indonesia, terdapat 25,22 juta jiwa yang masuk kategori miskin.

Wamen Agus Jabo Priono, yang hadir dalam diskusi tersebut, mengakui bahwa program seperti yang dijalankan Aditya seharusnya menjadi cermin bagi negara. Kementerian Sosial sendiri telah menjalankan program perhatian pangan untuk lansia tunggal—sekitar 100.000 orang di seluruh Indonesia—serta 42.000 penyandang disabilitas, dengan nilai makanan sekitar Rp 15.000 per paket berisi nasi, sayur, lauk, dan buah.

“Kami sangat menghargai inisiatif Mas Aditya yang tulus. Ke depan, kami ingin mengajak berkolaborasi agar program ini bisa bersinergi dengan program pemerintah,” ujar Agus.

Kolaborasi yang dimaksud bukan sekadar basa-basi. Kementerian Sosial selama ini memberdayakan kelompok masyarakat untuk menyiapkan dan mengantarkan makanan—model yang secara prinsip tidak jauh berbeda dari cara kerja Aditya selama bertahun-tahun.

Di luar program makan gratis, Aditya juga menjalankan sekolah kuliner gratis. Para peserta diajarkan membuat aneka makanan—dari bakso, siomay, kue, hingga jajanan viral seperti jagung mozzarella. Modal usaha dikumpulkan bersama melalui jaringan komunitas dan donatur lepas di YouTube, di mana kanal Rumah Makan Gratis-nya memiliki ribuan pengikut setia.

“Ide dulu, bukan modal. Kalau idenya bagus dan kreatif, modal akan mengikuti,” kata Aditya, merangkum filosofi wirausaha sosialnya.

Langkah serupa juga diambil oleh Yayasan Haffayu di Makassar, Sulawesi Selatan. Pengelola Rumah Makan Icuk menyebut mereka menyiapkan 300 hingga 400 porsi per hari sejak 2022, dengan sumber dana dari yayasan. Cabang kedua telah dibuka di Jalan Cakalang, kawasan Makassar utara, dengan kapasitas serupa.

Kisah-kisah seperti ini memberi konteks yang lebih kaya pada perdebatan soal anggaran Rp 10.000 per porsi yang kini menjadi sorotan publik. Di satu sisi, pemerintah berargumen bahwa nominal tersebut cukup memenuhi 600 hingga 700 kalori per sajian, terutama untuk wilayah-wilayah di luar Jawa yang harga bahannya relatif lebih murah. Di sisi lain, para pelaku di lapangan menunjukkan bahwa keberhasilan program semacam ini tidak semata bergantung pada angka—melainkan pada konsistensi, kreativitas, dan ketulusan dalam mengelolanya.

Aditya Prayoga bukan program pemerintah. Ia tidak punya Peraturan Presiden, tidak punya anggaran dari APBN, dan tidak punya staf pegawai negeri. Yang ia punya hanyalah tekad yang tidak pernah kendur selama enam tahun, dan keyakinan bahwa rezeki akan mengikuti mereka yang mau berbagi.

Dan itu, tampaknya, sudah cukup untuk memberi makan ratusan orang setiap harinya.



Follow Widget