MAKASSAR, KETIK NALAR – Empat puluh hari setelah dikubur, jenazah seorang pria dibuka kembali—dan apa yang ditemukan keluarganya mengubah hidup sang adik selamanya.

Maria Emilia tidak pernah menyangka bahwa sebuah prosesi pemindahan makam akan menjadi titik balik terbesar dalam hidupnya. Perempuan itu datang dengan ragu, menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri sesuatu yang tak sanggup ia nalar secara akal biasa: tubuh sang abang masih utuh, bersih, bahkan kulitnya terasa lembut seperti orang yang baru saja meninggal dunia.

Abang Maria Emilia adalah seorang mualaf—seseorang yang semasa hidupnya telah lebih dulu memilih jalan Islam. Ia meninggal dunia akibat kecelakaan, meninggalkan keluarga yang masih memeluk keyakinan lama. Kepergiannya yang mendadak memantik perdebatan di antara anggota keluarga: di mana sang abang semestinya dimakamkan? Apakah mengikuti keyakinan lamanya, atau mengikuti agama yang ia peluk sebelum ajal menjemput?

Pertentangan itu akhirnya berujung pada keputusan yang mungkin disesali sebagian pihak—jenazah sang abang dimakamkan secara non-Muslim. Namun cerita tidak berhenti di sana. Beberapa waktu kemudian, muncul kesepakatan untuk memindahkan makam. Gali kubur dilakukan. Dan di situlah segalanya berubah.

Ketika tanah dibuka dan peti diangkat, suasana hening mendadak menyelimuti semua yang hadir. Yang mereka dapati bukanlah pemandangan yang lazim setelah 40 hari seorang jasad bersemayam di dalam tanah. Tubuh sang abang tampak sebagaimana orang yang baru saja dipanggil Tuhan—utuh tanpa kerusakan, bersih tanpa noda, kulitnya masih elastis saat disentuh.

Bagi sebagian orang, fenomena semacam ini mungkin langsung disambut dengan skeptisisme. Tapi bagi Maria Emilia, perempuan yang berdiri tepat di hadapan pemandangan itu, rasanya bukan waktunya untuk berdebat soal ilmu pengetahuan. Sesuatu dalam dirinya bergetar. Sesuatu yang selama ini ia abaikan, tiba-tiba mengetuk dengan sangat keras.

Dalam tradisi Islam, kondisi jenazah yang tetap utuh dan tidak membusuk setelah lama dikubur sering kali dikaitkan dengan keistimewaan seorang hamba di sisi Tuhan. Kaum Muslim menyebutnya sebagai tanda kewalian atau kesalehan yang diakui langsung oleh langit. Tak sedikit kisah serupa yang tercatat dalam sejarah Islam—para wali, ulama, dan orang-orang saleh yang jasadnya tetap terjaga bahkan bertahun-tahun setelah wafat.

Apakah itu kebetulan? Apakah ada penjelasan medis yang bisa menjawabnya? Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin valid. Tapi Maria Emilia telah memilih jawabannya sendiri—jawabannya bukan ditemukan di laboratorium, melainkan di kedalaman hatinya yang paling sunyi.

Tak lama setelah peristiwa itu, Maria Emilia mengucapkan dua kalimat syahadat. Ia resmi menjadi seorang mualaf, mengikuti jejak abangnya yang telah lebih dulu mendahuluinya—baik dalam hidup maupun dalam iman.

Perjalanan seseorang menuju suatu keyakinan selalu punya jalan yang berbeda-beda. Ada yang menemukan Tuhan lewat buku, lewat pergumulan pikiran, lewat pertemuan dengan seseorang yang mengubah cara pandang. Maria Emilia menemukannya lewat sesuatu yang jauh lebih konkret: sebuah makam yang dibuka, dan sebuah tubuh yang menolak hancur.

Kisah seperti ini bukan hal baru di Indonesia—negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, tempat cerita tentang keajaiban dan hidayah bertebaran dari satu mulut ke mulut lain, dari satu kampung ke kota besar. Namun setiap kisah tetap terasa personal, tetap terasa seperti percakapan langsung antara seorang manusia dengan sesuatu yang jauh lebih besar dari dirinya.

Yang menarik dari kisah Maria Emilia bukan sekadar “apa yang ia lihat”—tetapi “apa yang ia putuskan setelahnya.” Menyaksikan sesuatu yang mengejutkan adalah satu hal. Mengubah seluruh arah hidup berdasarkan apa yang disaksikan adalah hal lain yang jauh lebih berat.

Berpindah keyakinan bukan perkara ringan. Ia menyangkut identitas, keluarga, lingkungan, bahkan nasib sosial seseorang. Di banyak komunitas, seorang mualaf harus siap menghadapi pertanyaan, cibiran, bahkan penolakan dari orang-orang terdekat. Maria Emilia, tentu saja, memahami semua itu. Namun ia tetap memilih.

Dan barangkali, itulah bagian paling manusiawi dari seluruh kisah ini—bukan soal jenazah yang utuh, bukan soal hal-hal yang sulit dijelaskan, melainkan soal seorang perempuan yang memilih untuk percaya, ketika semua yang pernah ia yakini sebelumnya tiba-tiba terasa goyah di bawah kakinya.

Abangnya pergi mendahului. Tapi mungkin, dalam cara yang paling tak terduga, sang abang meninggalkan sesuatu—sebuah pintu yang terbuka, menunggu adiknya menyusul masuk.



Follow Widget