SINJAI, KETIK NALAR – Di tengah kelangkaan bahan bakar minyak yang melanda sejumlah daerah, seorang kepala desa di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, memilih cara yang tak biasa untuk tetap hadir di kantornya — menunggangi kuda setiap hari kerja.
Muh. Amin Maddi, Kepala Desa Tellulimpoe, Kecamatan Tellulimpoe, Kabupaten Sinjai, menjadi perbincangan warganya bukan karena kebijakan desa, melainkan karena tunggangan yang ia pilih untuk berangkat kerja. Kuda menjadi solusinya ketika antrean BBM panjang dan harga eceran meroket tak terkendali.
Setiap pagi, Puang Amin — demikian ia akrab disapa — meninggalkan rumahnya menuju Kantor Desa Tellulimpoe menempuh jarak sekitar dua kilometer di atas pelana kuda. Ketika sore tiba dan urusan desa rampung, ia kembali memacu tunggangannya pulang ke rumah. Total perjalanan pulang-pergi mencapai empat kilometer setiap harinya, ditempuh bukan dengan roda dan bensin, melainkan dengan langkah kaki sang kuda.
Kepala desa yang telah menjabat selama tiga periode ini tidak menganggap kebiasaannya sebagai sesuatu yang luar biasa. Baginya, ini semata soal akal sehat menghadapi situasi yang tidak ideal. Saat BBM langka dan mahal, ia mengambil langkah pragmatis yang justru mengundang decak kagum warganya.
“Dari pada sulit dapat BBM, mending naik kuda. Ini sudah sebulanan saya menunggangi kuda dan pengeluaran menjadi lebih hemat,” kata Amin lugas, menjelaskan alasan di balik pilihannya yang kini menarik perhatian banyak orang.
Keputusan itu bukan tanpa alasan yang kuat. Di Kecamatan Tellulimpoe, harga BBM jenis Pertalite di tingkat pengecer menembus angka Rp15.000 per liter — hampir dua kali lipat dari harga resmi yang ditetapkan pemerintah. Kondisi ini bukan anomali sesaat, melainkan tekanan nyata yang dirasakan warga sehari-hari, termasuk oleh sang kepala desa sendiri.
Kelangkaan BBM yang melanda berbagai pelosok daerah memang bukan hal baru di Indonesia. Namun ketika imbasnya dirasakan hingga ke level pejabat desa yang harus berpikir ulang soal cara berangkat kerja, gambaran itu menjadi jauh lebih nyata dan menyentuh. Amin, dengan cara yang mungkin ia anggap biasa saja, justru merepresentasikan tekanan yang dirasakan jutaan warga di daerah terpencil.
Sudah sekitar sebulan Amin menjalani rutinitas barunya itu. Selama periode tersebut, ia mengaku pengeluaran hariannya untuk transportasi jauh lebih ringan dibanding saat masih mengandalkan kendaraan bermotor. Kuda yang ia miliki kini bukan sekadar hewan peliharaan, melainkan moda transportasi aktif yang ia andalkan setiap hari kerja.
Bagi masyarakat Sinjai, pemandangan kepala desa menunggang kuda menuju kantor mungkin terasa seperti campuran antara nostalgia dan kritik sosial yang tak terucapkan. Kuda, yang dulu menjadi alat transportasi utama sebelum era motorisasi, kini kembali relevan bukan karena pilihan gaya hidup, melainkan karena desakan ekonomi yang nyata.
Di sisi lain, gestur Amin juga menyentuh sisi kepemimpinan. Sebagai kepala desa tiga periode, ia bisa saja mengandalkan berbagai cara lain untuk mendapatkan BBM. Namun memilih untuk berdampak langsung bersama warganya, merasakan kesulitan yang sama dan mencari solusi alternatif, menjadikan caranya justru terasa lebih dekat dengan semangat pelayanan publik yang sesungguhnya.
Cerita ini dengan cepat menyebar di media sosial, terutama di kalangan pengguna yang meneruskan kisah unik tersebut dengan tagar yang segera ramai diperbincangkan. Banyak warganet yang memuji keberanian dan kreativitas Amin, meski sebagian juga menyoroti ironi di balik situasi itu — seorang kepala desa di era modern harus naik kuda karena negeri ini kesulitan menyuplai BBM ke daerah terpencil.
Fenomena ini juga membuka percakapan lebih luas soal ketimpangan distribusi energi di Indonesia. Ketika warga perkotaan masih bisa mengisi bensin dengan relatif mudah, di banyak kecamatan terpencil seperti Tellulimpoe, BBM menjadi barang langka yang harganya dipatok jauh di atas kemampuan rata-rata warga. Situasi ini bukan sekadar soal harga — ini soal keterjangkauan dan keadilan akses energi.
Muh. Amin Maddi, dengan langkah kudanya yang mantap setiap pagi, mungkin tidak bermaksud menjadi simbol apa pun. Namun tanpa ia sadari, tunggangannya itu telah menjadi cermin bagi banyak pihak — tentang bagaimana sebuah kebijakan energi yang gagal di hilir akhirnya dirasakan langsung oleh mereka yang paling jauh dari pusat keputusan.
Dan di antara derap kaki kuda yang mengantar sang kades ke kantor desa setiap pagi, ada pesan diam yang justru lantang terdengar: bahwa kelangkaan BBM bukan sekadar angka statistik, melainkan kenyataan hidup yang memaksa orang mencari jalan lain — bahkan jika jalan itu harus ditempuh di atas pelana kuda.




Tinggalkan Balasan