PONOROGO, KETIK NALAR — Pagi itu Gontor bukan sekadar merayakan usia. Ketika Presiden Prabowo Subianto melangkah masuk ke kompleks Pondok Modern Darussalam Gontor pada Sabtu, 19 September 2026, lebih dari delapan ribu pasang mata menyambut kehadirannya. Di sinilah, di tanah pesantren yang genap berusia seratus tahun, sebuah pernyataan keras dilontarkan kepada dunia: Indonesia tidak akan mundur selangkah pun dalam membela Palestina.

Kunjungan Presiden ke Ponorogo, Jawa Timur, bukan perjalanan biasa. Ini adalah penghormatan negara kepada sebuah institusi pendidikan yang selama satu abad penuh telah membentuk karakter ribuan putra-putri terbaik bangsa. Resepsi Kesyukuran 100 Tahun PMDG bukan seremoni seremonial semata — ini momentum historis yang menempatkan Gontor sejajar dengan pilar-pilar peradaban Islam Indonesia yang paling kokoh.

Prabowo tiba pukul 07.30 WIB. Suasana khidmat bercampur semangat. Di atas mimbar, di hadapan ribuan tamu undangan yang memenuhi setiap sudut lokasi acara, Presiden bicara lugas. Ia membuka dengan pujian tulus terhadap Panca Jiwa Gontor — lima ruh yang selama seabad ini menjadi kompas moral ribuan santri: keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, ukhuwah islamiyah, dan kebebasan berpikir.

Nilai-nilai itu, kata Prabowo, bukan milik Gontor semata. Itu adalah cerminan dari semangat yang ingin diwariskan Indonesia kepada generasi penerusnya — generasi yang tidak mudah goyah, tidak mudah dibeli, dan tidak takut berpihak pada kebenaran meski tekanan datang dari mana-mana.

Lalu tibalah bagian yang membuat ribuan hadirin bergemuruh.

Dengan suara tegas dan tanpa basa-basi diplomatik, Presiden Prabowo menegaskan kembali posisi Indonesia dalam isu yang paling panas di panggung geopolitik dunia saat ini: Palestina. Bagi Indonesia, kemerdekaan bukan sekadar kata. Perdamaian bukan sekadar harapan. Keduanya adalah cita-cita yang harus diperjuangkan — sampai benar-benar terwujud, sampai rakyat Palestina benar-benar berdiri di atas tanah mereka sendiri dalam kedaulatan penuh.

Pernyataan itu mendapat tempat yang tepat. Di sebuah pesantren yang selama seratus tahun mendidik santrinya dengan nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan universal, seruan untuk Palestina terasa bukan sekadar politik — melainkan panggilan nurani.

Seusai sambutan, momen yang mengharukan terjadi di atas panggung. K.H. Hasan Abdullah Sahal, tokoh sentral Gontor yang dikenal tegas sekaligus penuh kearifan, menyerahkan dua benda bermakna kepada Presiden. Pertama, buku Gontor untuk Indonesia — sebuah dokumentasi perjalanan panjang pesantren ini dalam membentuk bangsa. Kedua, Mushaf Al-Qur’an yang ditulis tangan oleh para santri dan guru Gontor sejak tahun 2023.

Mushaf itu bukan sekadar buku suci. Ia adalah karya manusia yang lahir dari kesabaran, ketelitian, dan keikhlasan — nilai-nilai yang justru diajarkan Gontor kepada setiap santrinya sejak hari pertama mereka menginjakkan kaki di pesantren ini. Menyerahkannya kepada Presiden Republik Indonesia adalah simbol yang berbicara lebih keras dari kata-kata mana pun.

Agenda hari itu tidak berhenti di sana. Prabowo kemudian meresmikan dua infrastruktur penting yang menandai wajah baru Gontor memasuki abad keduanya. Yang pertama adalah renovasi Aula Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM), jantung kegiatan pesantren yang kini tampil jauh lebih megah dan fungsional. Yang kedua — dan ini yang paling monumental — adalah Fakultas Kedokteran Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor.

Kehadiran Fakultas Kedokteran ini adalah pernyataan berani dari sebuah institusi pesantren kepada dunia: bahwa Islam dan sains bukan dua hal yang saling bertentangan. Bahwa dari rahim pesantren pun bisa lahir dokter-dokter yang tidak hanya mahir secara medis, tetapi juga kuat secara moral dan spiritual.

Ini juga sejalan dengan visi besar pemerintahan Prabowo dalam memperkuat sumber daya manusia Indonesia di bidang kesehatan — sektor yang selama ini masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi negara dengan 270 juta jiwa penduduk.

Di luar urusan Gontor, Presiden juga memanfaatkan panggung ini untuk menyampaikan tiga agenda nasional yang tidak kalah mendesaknya. Ia berbicara tentang kemandirian pangan — sebuah keharusan di tengah dunia yang semakin tidak pasti dan rantai pasokan global yang kian rapuh. Ia juga menyinggung pengentasan kemiskinan sebagai prioritas yang harus terasa dampaknya hingga ke pelosok-pelosok terpencil Indonesia.

Yang ketiga, dan ini menarik perhatian tersendiri: kedaulatan maritim. Prabowo menegaskan bahwa memberdayakan nelayan Indonesia bukan sekadar soal ekonomi. Ini soal menjaga batas, menjaga identitas, dan menjaga kehormatan sebagai bangsa bahari yang wilayahnya membentang dari Sabang sampai Merauke.

Rangkaian kunjungan bersejarah ini ditutup dengan penandatanganan dua prasasti — Prasasti Peresmian Renovasi Aula BPPM dan Prasasti Peresmian Fakultas Kedokteran UNIDA Gontor. Dua lembar batu bertulis yang kelak akan menjadi saksi bagi siapa saja bahwa pada hari itu, di usia ke-100 Gontor, sebuah halaman baru benar-benar mulai ditulis.

Satu abad adalah cermin. Dan apa yang dipantulkan Gontor hari ini adalah gambaran dari bangsa yang ingin Indonesia jadikan kenyataan: terdidik, berkarakter, mandiri, dan tidak pernah berhenti memperjuangkan keadilan — untuk dirinya sendiri, maupun untuk saudara-saudaranya di belahan bumi mana pun, termasuk di Palestina yang masih terus berjuang.



Follow Widget