MAKASSAR, KETIK NALAR – Secangkir kopi sebelum berolahraga ternyata menyimpan manfaat yang lebih panjang dari yang selama ini diasumsikan banyak orang. Penelitian terbaru dari Universitas Tsukuba, Jepang, mengungkap bahwa kafein mampu meningkatkan performa sprint bahkan hingga tiga setengah jam setelah dikonsumsi—jauh melampaui efek “dorongan sesaat” yang selama ini dikenal luas.

Studi tersebut dipublikasikan dalam jurnal bergengsi Medicine & Science in Sports & Exercise dan melibatkan 12 orang dewasa muda yang sehat sebagai subjek penelitian. Meski skalanya masih tergolong kecil, metodologinya dirancang ketat dengan pendekatan uji tersamar ganda—standar emas dalam penelitian klinis.

Setiap peserta menjalani dua sesi pengujian secara acak. Pada satu sesi, mereka mengonsumsi kafein dengan dosis 5,5 miligram per kilogram berat badan; pada sesi lainnya, mereka hanya menerima plasebo tanpa mengetahui perbedaannya. Sekitar satu jam setelah konsumsi, seluruh peserta menjalani serangkaian tes bersepeda yang menggabungkan aktivitas intensitas sedang dengan sesi sprint pendek yang berulang.

Hasilnya cukup mencolok. Daya rata-rata saat melakukan sprint meningkat antara 0,5 hingga 2,4 persen pada kelompok yang mengonsumsi kafein dibandingkan plasebo. Yang lebih menarik, daya puncak pada sprint kedua dan ketiga bahkan naik hingga 3,7 persen—menunjukkan bahwa kafein tidak hanya bekerja di awal, tetapi justru semakin efektif seiring berjalannya sesi latihan.

Para peserta juga melaporkan sensasi yang lebih ringan saat beraktivitas intensitas tinggi. Rasa lelah dan nyeri otot kaki terasa lebih rendah—sebuah efek yang secara langsung berpengaruh pada kemampuan mereka bertahan dalam latihan berat.

Di balik efek tersebut, para peneliti menemukan bahwa kadar noradrenalin dalam plasma darah ikut mengalami peningkatan setelah konsumsi kafein. Noradrenalin adalah senyawa kimia yang berperan penting dalam respons tubuh terhadap aktivitas fisik maupun tekanan—semacam “sinyal siaga” yang mendorong tubuh bekerja lebih keras dan lebih lama.

Namun temuan ini perlu dibaca dengan kepala dingin. Jumlah 12 peserta jelas terlalu kecil untuk dijadikan landasan kesimpulan yang luas. Seluruh pengujian juga dilakukan dalam satu jenis aktivitas—sprint bersepeda—sehingga hasilnya belum tentu berlaku sama untuk lari, renang, angkat beban, atau jenis olahraga lainnya.

Yang juga perlu dicermati adalah soal dosis. Angka 5,5 miligram per kilogram berat badan tergolong tinggi. Untuk seseorang dengan berat badan 70 kilogram, jumlah itu setara sekitar 385 miligram kafein—kira-kira empat cangkir kopi hitam sekaligus, atau lebih. Bukan dosis yang ringan bagi kebanyakan orang.

Pada takaran sebesar itu, kafein bisa memicu sejumlah efek samping yang tidak nyaman: jantung berdebar, rasa gelisah, hingga gangguan pencernaan. Mengonsumsinya terlalu dekat dengan waktu tidur juga berisiko merusak kualitas istirahat malam—yang ironisnya justru berpengaruh negatif terhadap pemulihan dan performa olahraga itu sendiri.

Karena itulah para ahli mengingatkan bahwa penelitian ini belum bisa menjadi justifikasi universal bagi semua orang untuk rutin minum kafein sebelum latihan. Toleransi tubuh terhadap kafein sangat bervariasi antarindividu; apa yang bekerja optimal bagi satu orang bisa menjadi gangguan bagi orang lain.

Bagi mereka yang tidak terbiasa mengonsumsi kafein, tiba-tiba meningkatkan asupan demi alasan performa justru bisa kontraproduktif. Sensitivitas terhadap kafein dipengaruhi oleh faktor genetik, kebiasaan konsumsi sehari-hari, serta kondisi kesehatan yang mendasari.

Dalam konteks ilmu olahraga yang lebih luas, kafein memang telah lama dikenal sebagai salah satu suplemen ergogenik—substansi yang terbukti secara ilmiah membantu meningkatkan performa fisik—yang paling sering diteliti dan digunakan. Temuan dari Universitas Tsukuba ini menambah satu keping pemahaman baru: efeknya terhadap sprint ternyata lebih tahan lama dari yang diperkirakan.

Meski begitu, perjalanan dari temuan laboratorium ke rekomendasi praktis masih membutuhkan penelitian lanjutan dengan jumlah peserta yang lebih besar, ragam jenis olahraga yang lebih luas, dan rentang usia yang lebih beragam. Sampai saat itu, secangkir kopi sebelum latihan bisa jadi pilihan yang masuk akal—selama tubuh memang cocok, dosisnya wajar, dan waktunya tepat.



Follow Widget