SINJAI, KETIK NALAR – Ratusan warga memadati tepian Sungai Apareng, Sabtu, 10 Oktober 2026. Mereka bukan sekadar menonton — mereka adalah bagian dari sebuah ritual turun-temurun yang telah menyatu dengan denyut kehidupan masyarakat pesisir Sinjai sejak generasi ke generasi.
Tradisi Ma’rimpa Salo kembali digelar di Desa Sanjai, Kecamatan Sinjai Timur, Kabupaten Sinjai. Tahun ini, perhelatan budaya tahunan itu hadir dengan wajah baru: mengusung konsep ECO Green, memadukan kekayaan warisan leluhur dengan kesadaran menjaga kelestarian alam.
Ma’rimpa Salo secara harfiah berarti kegiatan menghalau ikan di sungai secara bersama-sama. Bagi masyarakat setempat, ini bukan sekadar cara mencari ikan — ini adalah ungkapan syukur atas rezeki yang diberikan alam, baik dari hasil bumi maupun tangkapan air.
Wakil Bupati Sinjai, Andi Mahyanto Mazda, hadir mewakili Bupati dan menegaskan bahwa tradisi ini mencerminkan dua hal sekaligus: identitas masyarakat pesisir dan semangat gotong royong yang selama ini menjadi tulang punggung kehidupan sosial di Sinjai.
“Tradisi ini dilakukan secara bersama-sama dengan menghalau ikan di sungai. Bagi masyarakat setempat, Ma’rimpa Salo juga menjadi ungkapan rasa syukur atas rezeki yang diperoleh, baik dari hasil pertanian maupun tangkapan ikan,” ujarnya di hadapan para peserta dan tamu yang hadir.
Keistimewaan Ma’rimpa Salo 2026 tak berhenti di situ. Sejumlah rangkaian kegiatan turut memperkaya pelaksanaan tradisi ini, mulai dari deklarasi peduli lingkungan Sungai Apareng hingga lomba balap perahu yang memicu sorak sorai penonton di tepi sungai.
Deklarasi peduli lingkungan itu bukan sekadar seremonial. Ia menjadi penanda komitmen bersama — antara pemerintah, masyarakat, dan komunitas lokal — untuk menjaga ekosistem Sungai Apareng agar tetap sehat dan lestari. Sungai ini bukan hanya latar tradisi, melainkan sumber kehidupan yang perlu dijaga.
Andi Mahyanto menyebut, pelestarian tradisi Ma’rimpa Salo harus berjalan seiring dengan upaya menjaga lingkungan sungai. Tanpa ekosistem yang sehat, tradisi ini pun akan kehilangan maknanya. Sebaliknya, tradisi yang hidup bisa menjadi kekuatan untuk mendorong kesadaran lingkungan masyarakat secara organik.
Sungai Apareng sendiri memiliki posisi geografis yang unik. Aliran sungai ini menjadi batas alami antara Desa Sanjai dan Desa Bua, mencakup wilayah dua kecamatan sekaligus: Sinjai Timur dan Tellulimpoe. Lokasinya yang berada di perbatasan dua wilayah justru menjadi simbol persatuan dalam keberagaman.
Dari sisi ekonomi, Ma’rimpa Salo menyimpan potensi yang belum sepenuhnya tergali. Pemerintah Kabupaten Sinjai melihat tradisi ini sebagai daya tarik wisata yang bisa mendatangkan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar — mulai dari terbukanya peluang usaha kecil, meningkatnya kunjungan wisatawan, hingga bergairahnya aktivitas ekonomi warga lokal.
Apalagi, Ma’rimpa Salo sudah resmi masuk dalam agenda budaya dan pariwisata Kabupaten Sinjai serta terdaftar dalam Calendar of Event Sulawesi Selatan. Ini bukan pencapaian kecil. Masuknya Ma’rimpa Salo dalam kalender resmi provinsi membuka pintu lebih lebar bagi promosi wisata budaya Sinjai ke tingkat yang lebih luas.
Pemerintah Kabupaten Sinjai pun menaruh harapan besar. Andi Mahyanto menyampaikan bahwa ke depan, kualitas penyelenggaraan Ma’rimpa Salo perlu terus ditingkatkan agar berpeluang menembus Kharisma Event Nusantara — ajang bergengsi pengakuan nasional untuk event budaya dan pariwisata terbaik di Indonesia.
Untuk mencapai itu, kolaborasi menjadi kunci. Pemerintah daerah tidak bisa berjalan sendiri. Dibutuhkan sinergi antara komunitas budaya, pelaku wisata, masyarakat lokal, hingga dukungan pemerintah provinsi.
Pelaksanaan Ma’rimpa Salo 2026 diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Sinjai melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Sejumlah pejabat turut hadir, termasuk unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), kepala organisasi perangkat daerah, serta Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Sinjai, Rozalina A. Mahyanto.
Kehadiran berbagai unsur itu menjadi sinyal bahwa Ma’rimpa Salo bukan sekadar hajatan desa. Ini adalah perayaan kolektif yang mendapat dukungan penuh dari berbagai lapisan — dari aparatur daerah hingga ibu-ibu PKK yang menjadi penggerak komunitas.
Di tepi Sungai Apareng yang mengalir tenang, Ma’rimpa Salo mengajarkan satu hal yang sederhana namun dalam: bahwa tradisi yang hidup bukan hanya yang diingat, melainkan yang terus dirayakan bersama — sembari menjaga alam yang menghidupkannya.




Tinggalkan Balasan