MAKASSAR, KETIK NALAR – Orang tua memegang kunci utama dalam menentukan arah masa depan anak. Pernyataan tegas ini disampaikan Prof. Rahmi Damis, akademisi sekaligus penceramah, dalam program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Makassar, Selasa, 30 September 2026. Ia menegaskan bahwa setiap anak lahir dalam keadaan fitrah yang bersih — dan lingkungan keluargalah yang akan membentuk ke mana fitrah itu berkembang.

Menurut Prof. Rahmi, anak adalah amanah yang dititipkan Allah SWT kepada setiap orang tua. Karena itu, tanggung jawab mendidik anak bukan sekadar urusan sosial, melainkan kewajiban spiritual yang tidak bisa diabaikan.

“Karena anak ini yang diamanahkan oleh Allah SWT kepada kita. Maka tentunya kita harus mengarahkan ataukah mendidik anak kita sesuai dengan tujuan ataukah amanah yang diberikan oleh Allah SWT,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa pembentukan karakter anak sebaiknya dimulai jauh sebelum sang anak mengenal dunia luar — bahkan sejak masih dalam kandungan. Kebiasaan positif yang dibangun ibu selama masa kehamilan dinilai menjadi fondasi pertama penanaman nilai kebaikan.

Ibu hamil, menurut Prof. Rahmi, dianjurkan memperbanyak bacaan ayat suci Al-Qur’an serta melantunkan doa-doa keselamatan dan keberkahan untuk calon buah hatinya. Bukan sekadar ritual, kebiasaan spiritual ini diyakini membentuk resonansi batin antara ibu dan anak sejak dalam rahim.

Memasuki usia sekolah dasar, anak berada di fase yang oleh Prof. Rahmi disebut sebagai masa emas pembentukan karakter. Pada rentang usia ini, akal anak mulai aktif menyerap informasi dari lingkungan sekitar, termasuk keteladanan yang ditunjukkan oleh orang-orang terdekat mereka.

Penanaman disiplin ibadah, terutama salat, perlu mulai dibiasakan secara konsisten sejak usia tujuh tahun. Bukan sekadar aturan, ini adalah investasi jangka panjang dalam membentuk kepribadian anak yang bertanggung jawab dan berkarakter kuat.

Di era serba digital seperti sekarang, tantangan yang dihadapi orang tua semakin kompleks. Prof. Rahmi mengingatkan bahwa memberikan anak fasilitas gawai atau kendaraan tidak cukup menjadi ukuran keberhasilan dalam mengasuh anak.

Yang jauh lebih penting adalah pengawasan aktif terhadap penggunaan teknologi. Orang tua dituntut memantau aktivitas digital anak, bahkan ketika si anak sedang berada di dalam kamar sekalipun. Kelalaian pada titik ini, menurut Prof. Rahmi, sering kali menjadi pintu masuk bagi berbagai perilaku negatif — dari tawuran hingga pergaulan bebas.

Perhatian ekstra justru semakin dibutuhkan ketika anak menginjak jenjang Sekolah Menengah Pertama. Fase ini ditandai dengan gejolak emosi yang belum stabil dan perkembangan kejiwaan yang sedang dalam proses pembentukan.

Prof. Rahmi menekankan bahwa pada fase remaja, kasih sayang dan komunikasi yang hangat jauh lebih efektif dibandingkan larangan yang kaku atau pemenuhan materi semata. Orang tua yang mampu menjadi pendengar dan sahabat bagi anaknya akan lebih mudah mengarahkan sang anak melewati masa transisi yang rentan ini.

Komunikasi terbuka antara orang tua dan anak menjadi jembatan yang menjaga kepercayaan di antara keduanya. Ketika kepercayaan itu terjaga, anak akan lebih terbuka dalam berbagi masalah dan tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan yang negatif.

Prof. Rahmi juga menyoroti pentingnya sinergi antara pendidikan di rumah dan di sekolah. Keduanya harus berjalan beriringan dan saling memperkuat, bukan berjalan sendiri-sendiri.

Pilihan lingkungan pendidikan yang tepat menjadi bagian dari tanggung jawab orang tua yang tidak bisa disepelekan. Sekolah yang baik akan memperkuat nilai-nilai yang sudah ditanamkan di rumah, dan sebaliknya.

Sebagai pesan penutup, Prof. Rahmi mengajak seluruh orang tua untuk tidak pernah berhenti mendoakan putra-putri mereka. Doa, menurutnya, adalah bentuk ikhtiar spiritual yang menembus batas jarak dan waktu.

Ia meyakini bahwa kombinasi antara pengawasan yang penuh kasih, pendidikan yang konsisten, dan doa yang tak putus adalah formula terbaik dalam mencetak generasi muda yang saleh, disiplin, dan berbakti kepada orang tua. Generasi seperti inilah yang akan menjadi fondasi kokoh bagi masa depan bangsa.



Follow Widget