YOGYAKARTA, KETIK NALAR – Di tengah himpitan permukiman padat Kota Yogyakarta, sebuah kelompok warga membuktikan bahwa menanam padi tidak harus butuh sawah. Cukup dengan galon air mineral bekas, mereka berhasil menumbuhkan tanaman pangan pokok itu di lahan sempit perkotaan—sebuah terobosan sederhana yang kini menarik perhatian banyak pihak.
Kelompok tani Swakaton Asri di kawasan Wirobajan, Yogyakarta, menjadi pelaku di balik eksperimen pertanian urban yang tidak biasa ini. Mereka yang sebelumnya sudah dua tahun bergelut dengan budidaya sayuran di lahan terbatas, kini mencoba naik level: menanam padi, sumber karbohidrat utama masyarakat Indonesia.
Gagasan ini lahir dari sebuah pertanyaan sederhana. Jika sayuran bisa tumbuh subur di pot dan media tanam terbatas, mengapa padi tidak bisa? Dari rasa penasaran itulah, percobaan pertama pun dimulai pada Juni lalu dengan memanfaatkan 120 galon air mineral bekas sebagai wadah tanam.
Setiap galon tidak dilubangi agar air tetap tergenang di dalamnya. Sistem ini sengaja dirancang menyerupai kondisi sawah konvensional dalam skala mini. Manajemen air menjadi kunci utama keberhasilan metode ini—pada fase tertentu air digenangi penuh, lalu dikurangi menjelang masa panen agar bulir padi bisa mengering sempurna.
Metode tanam yang digunakan pun disesuaikan dengan keterbatasan media. Warga menggunakan sistem tabur benih langsung atau direct seed. Media tanam berupa campuran tanah dan pupuk disiapkan terlebih dahulu, lalu dibiarkan beberapa hari sebelum digenangi air. Setelah itu, benih padi yang sudah dipilih disebarkan langsung ke dalam galon, satu hingga dua benih per galon.
Lima hari setelah penyemaian, tunas padi mulai bermunculan. Untuk tanaman yang masih di bawah sepuluh sentimeter, air tidak perlu menggenang penuh—cukup lembap atau dalam istilah Jawa disebut “macak-macak”. Perawatannya tergolong mudah dan bisa dilakukan siapa saja, bahkan tanpa latar belakang pertanian sekalipun.
Masa tanam berlangsung sekitar 105 hingga 110 hari. Dari setiap galon, kelompok ini memperkirakan hasil panen mencapai sekitar 100 gram gabah kering. Jika dikalikan dengan 120 galon yang digunakan, potensi total hasil panen mencapai sekitar 12 kilogram gabah kering—angka yang tentu tidak sebanding dengan produksi sawah konvensional, namun tetap bermakna besar bagi mereka.
Yang membuat sistem ini semakin menarik adalah integrasinya dengan budidaya ikan lele. Air limbah dari kolam lele tidak dibuang begitu saja, melainkan didaur ulang menjadi pupuk organik cair yang disiramkan ke tanaman padi. Konsep ini menciptakan siklus pertanian yang efisien dan minim limbah—selaras dengan prinsip pertanian berkelanjutan yang kini banyak dipromosikan.
Sebelum mencoba padi, Swakaton Asri sudah lebih dulu berhasil membudidayakan berbagai jenis sayuran seperti cabai, terong, dan bawang di lahan yang sama. Dari pengalaman itu, mereka menyebut terong sebagai tanaman yang paling mudah dirawat dan paling menjanjikan hasilnya, sementara cabai disebut sebagai yang paling sulit dan membutuhkan perhatian ekstra.
Keberhasilan ini tidak datang sendiri. Kelompok tani Swakaton Asri mendapat dukungan dari kalangan akademisi. Salah satunya adalah dosen dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang hadir memberikan pendampingan dan pelatihan sebagai bagian dari program pengabdian masyarakat. Sinergi antara warga dan kampus ini diyakini menjadi faktor penting yang mempercepat keberhasilan eksperimen pertama mereka.
Bagi para anggota kelompok, melihat tanaman padi tumbuh dan berbulir di dalam galon adalah kebahagiaan tersendiri. Ada rasa puas yang sulit diungkapkan dengan kata-kata—terutama karena ini adalah kali pertama mereka menanam padi, dan hasilnya melampaui ekspektasi.
Hasil panen pertama ini pun diputuskan tidak akan dijual. Seluruh gabah yang dipanen akan dibagikan kepada anggota kelompok tani sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras dan keberanian mereka mencoba hal baru. Sebuah keputusan yang memperkuat semangat gotong royong di antara warga.
Eksperimen Wirobajan ini sekaligus membuka perspektif baru tentang ketahanan pangan di kawasan perkotaan. Di kota-kota besar yang terus dipadati bangunan dan jalan aspal, ruang hijau semakin menyempit. Namun inovasi seperti ini membuktikan bahwa keterbatasan lahan bukan alasan untuk menyerah dari upaya memproduksi pangan sendiri.
Dengan modal galon bekas dan semangat yang tidak pernah habis, warga Wirobajan telah mengubah gang sempit perkotaan menjadi ladang harapan. Mereka membuktikan bahwa sawah tidak selalu harus luas dan berlumpur—kadang, cukup sebuah galon, tanah, air, dan tekad yang kuat.




Tinggalkan Balasan