JAKARTA, PUNGGAWANEWS – Seekor pedet lahir, dan selama bertahun-tahun peternak hanya bisa menunggu—menunggu hingga sapi itu dewasa, bunting, melahirkan, baru kemudian diketahui seberapa besar produksi susunya. Era penantian panjang itu kini mulai berakhir. Kementerian Pertanian mendorong pemuliaan ternak Indonesia masuk ke babak baru: seleksi berbasis DNA yang mampu membaca potensi genetik seekor ternak jauh sebelum ia mencapai usia produktif.
Langkah ini bukan sekadar perubahan teknis. Ini adalah pergeseran cara pandang. Selama ini, penilaian kualitas ternak bertumpu pada penampilan fisik dan silsilah—pendekatan yang sudah berlangsung puluhan tahun. Kini, data genomik membuka kemungkinan prediksi yang jauh lebih presisi, lebih cepat, dan lebih efisien secara ekonomi.
Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Ditjen PKH Kementan, Hary Suhada, menegaskan bahwa pemerintah tidak bisa berjalan sendiri dalam transformasi ini. Ia menyampaikan pernyataannya pada Minggu, 20 September 2026, dalam keterangannya kepada media.
Menurut Hary, teknologi reproduksi, kualitas sumber daya manusia, riset, pengelolaan data, dan keterlibatan dunia usaha harus bergerak dalam satu irama. Tanpa sinergi itu, perbaikan genetik akan berjalan lambat dan tidak akan menghasilkan ternak yang benar-benar produktif.
“Kita membutuhkan kolaborasi dengan pelaku usaha genetik, perguruan tinggi, lembaga riset, serta pengembangan teknologi reproduksi seperti transfer embrio untuk mempercepat peningkatan populasi ternak berkualitas,” kata Hary.
Pernyataan itu sejalan dengan gebrakan yang diperkenalkan dalam rangkaian ILDEX Indonesia 2026—sebuah pameran internasional peternakan yang menjadi panggung pengumuman transformasi besar. Balai Embrio Ternak (BET) Cipelang, yang selama ini dikenal sebagai pusat teknologi embrio ternak nasional, resmi bertransformasi menjadi BEStGen, singkatan dari Balai Embrio dan Sertifikasi Genomik.
Kepala BET Cipelang, Deasy Zamanti, menyebut transformasi itu bukan sekadar pergantian nama. Ini adalah komitmen untuk melangkah maju dari cara-cara lama yang sudah terlalu lama dipertahankan.
“Kalau kita tidak melangkah maju, masa kita terus di titik nol? Ini adalah titik awal kita untuk melangkah menjadi lebih maju,” ujar Deasy dengan nada tegas.
BEStGen dirancang untuk memperkuat pengelolaan informasi dan material genetik ternak secara menyeluruh—mulai dari seleksi, konservasi plasma nutfah, hingga pengembangan ternak yang disesuaikan dengan kebutuhan spesifik Indonesia. Hasilnya sudah mulai terlihat. Publikasi Juli 2026 mencatat hampir 200 ekor sapi BET telah berhasil dipetakan genomnya, mencakup karakter produksi, pertumbuhan, daya tahan penyakit, hingga adaptasi terhadap suhu panas.
Deasy menekankan bahwa data genomik yang terkumpul bukan milik satu lembaga. Informasi itu adalah aset bersama yang harus bisa diakses dan dimanfaatkan oleh seluruh pemangku kepentingan di sektor peternakan nasional.
“Genomik ini tidak milik pribadi, ini milik semuanya. BEStGen nanti akan banyak berkolaborasi untuk menelusur, mencari data dan informasi yang membantu kita menyusun tatanan genetik unggul yang kita butuhkan,” tegasnya.
Dari sisi akademik, nilai strategis seleksi genomik ini dijelaskan oleh Guru Besar Universitas Sebelas Maret, Prof. Sigit Prastowo. Ia menggambarkan betapa selama ini dunia peternakan bekerja dalam ketidakpastian yang panjang—sesuatu yang kini bisa dipangkas secara signifikan dengan teknologi DNA.
Sigit memberi gambaran sederhana namun tajam. Ketika seseorang melihat seekor pedet yang baru lahir, tidak ada yang bisa memastikan berapa liter susu yang akan dihasilkannya setelah dewasa. Proses menunggu itu memakan waktu bertahun-tahun dan mengandung risiko kerugian yang tidak kecil.
“Sekarang dengan informasi DNA kita bisa memprediksi berapa kemampuan produksi susu dari seekor sapi itu di dalam populasi,” kata Sigit.
Namun ia juga memberi catatan penting. Prediksi berbasis genomik tidak bisa berdiri sendiri. Agar akurat dan dapat diandalkan, data DNA harus diintegrasikan dengan informasi silsilah, data produksi, catatan reproduksi, kondisi lingkungan, serta pembangunan reference population—populasi rujukan yang menjadi tolok ukur analisis genomik.
“Kalau tidak ada catatan, tidak ada aturan perkawinan, tidak ada informasi yang lain, ketika melihat seekor sapi ini, yang tinggal hanya satu informasi DNA,” ujar Sigit, mengingatkan pentingnya sistem pencatatan yang tertib dan konsisten.
Ia juga menyentuh dimensi ekonomi yang sering luput dari perhatian. Dalam bisnis peternakan, waktu adalah uang—dalam arti yang sangat harfiah. Setiap hari sapi tidak bunting atau tidak menghasilkan susu adalah kerugian nyata yang harus ditanggung peternak.
“Ketika bicara bisnis adalah cost opportunity. Satu hari tidak bunting atau satu hari tidak menghasilkan susu itu sudah satu kerugian,” kata Sigit, menegaskan mengapa percepatan seleksi genetik memiliki nilai ekonomi yang sangat signifikan.
Kesadaran akan pentingnya data juga mendorong perubahan di tingkat asosiasi. Asosiasi Holstein Indonesia (AHI) kini tengah memperkuat sistem pencatatannya melalui digitalisasi data produksi dan reproduksi, inventarisasi genetik, serta analisis genomik yang lebih sistematis. Langkah ini menjadi bagian dari ekosistem yang lebih besar—sebuah upaya kolektif untuk membangun fondasi peternakan Indonesia yang lebih kuat, lebih efisien, dan lebih kompetitif di tingkat global.
Transformasi ini tidak datang dalam semalam. Dibutuhkan investasi dalam infrastruktur data, penguatan kapasitas SDM, kolaborasi lintas sektor, dan konsistensi kebijakan jangka panjang. Namun arahnya sudah jelas: Indonesia sedang bergerak meninggalkan cara lama, menuju pemuliaan ternak yang lebih cerdas, lebih presisi, dan berbasis ilmu pengetahuan.
Seekor pedet kini bukan lagi sekadar teka-teki yang harus ditunggu jawabannya selama bertahun-tahun. Dengan peta genomik di tangan, masa depannya bisa dibaca lebih awal—dan potensi terbaiknya bisa dipilih sejak hari pertama.


Leave a Reply