DEPOK, KETIK NALAR – Ada pemandangan yang tidak biasa di salah satu lapangan sepak bola di Depok. Bukan anak-anak berseragam yang berlarian mengejar bola, melainkan para bapak-bapak—ada yang berdasi tadi pagi, ada yang baru saja menutup toko, ada pula yang tadi siang masih rapat—kini berdiri di depan pelatih, siap menerima instruksi latihan passing dari awal.
Inilah SSB Bapak-Bapak, sebuah sekolah sepak bola yang didirikan oleh Taromisaki Romi, warga Depok yang melihat celah yang selama ini jarang diisi: orang dewasa yang ingin belajar sepak bola secara terstruktur, bukan sekadar ikut fun football lalu langsung bertanding.
Gagasan Romi berangkat dari pengalaman yang terasa familiar bagi banyak orang. Sepak bola memang sudah akrab sejak kecil—tapi keakraban itu biasanya terjadi di gang sempit, tanah lapang kampung, atau halaman sekolah. Tidak ada pelatih, tidak ada kurikulum latihan. Gawang kadang cuma dua sandal jepit yang diletakkan berjarak. Selama ada bola dan ada teman, pertandingan bisa dimulai.
Menyenangkan? Tentu. Tapi belajar teknik yang benar? Belum tentu.
Ironinya muncul saat orang sudah dewasa. Sepatu bola kini bisa dibeli sendiri tanpa perlu menunggu lebaran. Lapangan sintetis bisa disewa kapan saja. Jersey klub favorit tidak lagi tergantung dari kemurahan hati orang tua. Namun justru ketika semua fasilitas itu sudah terjangkau, tempat untuk belajar sepak bola dari dasar nyaris tidak ada—karena hampir semua sekolah sepak bola memang dirancang untuk anak-anak dan remaja.
Pilihan orang dewasa pun menyempit menjadi dua: bergabung komunitas bola atau ikut fun football. Keduanya sama-sama menyenangkan, tapi formatnya langsung tanding. Pemanasan sebentar, bagi tim, peluit berbunyi, permainan dimulai. Bagi yang sejak kecil sudah terbiasa bermain, itu bukan masalah. Tapi bagi yang kontrol bolanya masih melenceng, passing-nya masih sering salah arah, atau yang bahkan belum paham soal posisi dalam permainan, belajar sambil dikejar lawan bukan cara yang paling efektif.
SSB Bapak-Bapak hadir untuk mengisi ruang kosong itulah. Di sini peserta tidak langsung dilempar ke tengah pertandingan. Mereka mendapat latihan teknik dasar—passing, dribbling, shooting—disertai latihan fisik dan pemahaman pola permainan. Prosesnya mirip seperti SSB untuk anak-anak, hanya saja murid-muridnya sudah punya kartu BPJS atas nama sendiri.
Yang menarik dari konsep ini bukan sekadar keunikannya. Ada sesuatu yang lebih dalam yang sedang ditawarkan.
Semakin tua seseorang, semakin langka kesempatan untuk menjadi pemula. Anak delapan tahun yang belum bisa menggiring bola dengan benar? Wajar, dia memang sedang belajar. Tapi bapak-bapak 38 tahun yang baru belajar passing? Itu bisa jadi bahan candaan. Seolah ada batas tidak tertulis: setelah usia tertentu, seseorang harus sudah tahu segalanya, sudah bisa melakukan semuanya.
Padahal logika itu tidak pernah benar-benar masuk akal. Orang belajar gitar tidak harus menjadi musisi. Orang belajar memasak tidak harus membuka restoran. Dan orang yang belajar shooting di usia 40 tahun jelas tidak sedang menunggu panggilan dari pelatih timnas. Tapi ada kepuasan tersendiri ketika bola yang tadinya selalu melenceng akhirnya mulai menuju ke arah yang benar. Ketika kontrol pertama yang dulu membuat bola meluncur dua meter ke depan perlahan mulai bisa dijinakkan.
Pengalaman menikmati proses belajar seperti itu—tanpa tekanan hasil, tanpa target karier—justru sering menghilang begitu seseorang masuk ke kehidupan dewasa penuh.
Kehidupan orang dewasa memang padat dengan tanggung jawab yang tidak bisa dinegosiasikan. Pekerjaan harus selesai. Penghasilan harus dijaga. Anak harus sekolah. Tagihan datang tepat waktu meskipun semangat kadang tidak. Di tengah semua itu, waktu untuk melakukan sesuatu hanya karena menyukainya sering kali digeser ke daftar paling belakang—kalau pun masuk daftar.
Sementara itu, tubuh tetap punya kebutuhannya sendiri. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa aktivitas fisik rutin memberikan manfaat nyata bagi orang dewasa: menurunkan risiko penyakit tidak menular, mendukung kesehatan mental, memperbaiki kualitas tidur, dan menjaga kondisi tubuh secara keseluruhan. WHO juga mencatat sekitar 31 persen orang dewasa di seluruh dunia belum memenuhi tingkat aktivitas fisik yang direkomendasikan.
Masalahnya bukan tidak tahu bahwa olahraga itu penting. Hampir semua orang dewasa sudah tahu. Tantangan sesungguhnya adalah menemukan olahraga yang cukup menyenangkan untuk dilakukan secara rutin—bukan karena merasa wajib, tapi karena memang ingin datang lagi minggu depan.
Sepak bola punya keunggulan di sini. Orang tidak datang ke lapangan semata-mata untuk membakar kalori sambil menatap dinding gym. Mereka datang untuk mengejar bola, kerja sama dengan teman, mencoba mencetak gol, dan mengalami momen-momen kecil yang tidak bisa direplikasi oleh treadmill mana pun.
Di luar manfaat fisik, ada pula manfaat sosial yang tidak kalah penting. Sejumlah penelitian tentang olahraga tim pada orang dewasa menemukan kaitannya dengan rasa memiliki, interaksi sosial, dukungan kelompok, dan terbentuknya jaringan pertemanan yang baru. Ini relevan, karena semakin dewasa seseorang, bertemu teman secara rutin justru semakin sulit diatur.
Dulu, cukup datang ke sekolah dan teman-teman sudah ada di sana. Sekarang, mengumpulkan lima orang untuk ngopi saja butuh koordinasi seperti menyusun agenda rapat direksi. Ada yang hanya bisa malam. Ada yang bisanya akhir pekan. Ada yang bilang ikut tapi satu jam sebelumnya hilang dari grup. Lalu rencananya pun mundur lagi.
Jadwal latihan memberikan solusi sederhana untuk masalah itu. Ada hari yang sudah pasti, ada tempat yang sudah ditentukan, ada orang-orang yang menunggu. Pertemanan tidak hanya dibangun lewat obrolan, tapi juga melalui keringat bersama di lapangan.
Berdasarkan informasi yang dipublikasikan melalui kanal SSB Bapak-Bapak, kegiatan ini sudah hadir di Depok, Jakarta Selatan, dan Tangerang Selatan, serta berencana merambah ke Bandung. Perkembangan itu setidaknya menunjukkan bahwa ada pasar yang nyata—kelompok orang dewasa pemula yang selama ini tidak banyak dilirik industri olahraga.
Fasilitas pembinaan selama ini memang lebih banyak diarahkan untuk anak-anak. Komunitas olahraga dewasa biasanya diisi oleh mereka yang sudah bisa bermain. Di antara keduanya, ada orang-orang yang sebenarnya tertarik, punya kemampuan finansial untuk membayar fasilitas, tapi tidak tahu harus memulai dari mana.
Akibatnya, banyak yang akhirnya cukup puas jadi penonton. Menonton Liga Inggris bisa membahas formasi dengan detail. Melihat timnas main bisa langsung tahu siapa yang harus diganti. Bahkan ketika pesepak bola profesional gagal mengoper, langsung bisa menjelaskan letak kesalahannya. Tapi begitu turun sendiri ke lapangan—kontrol pertama membuat bola meluncur dua meter ke depan. Teorinya Liga Champions, sentuhannya masih kelas tarkam.
Nama SSB Bapak-Bapak sendiri punya fungsi yang lebih dari sekadar identitas. Secara tidak langsung, nama itu sudah menghilangkan rasa canggung. Tidak ada yang perlu pura-pura sudah jago. Tidak ada yang perlu malu karena belum bisa passing. Semua peserta datang dengan status yang sama: orang dewasa yang ingin belajar.
Ada pula dimensi yang sering disebut sebagai pemenuhan inner child—istilah yang memang terdengar seperti kosakata media sosial, tapi intinya mudah dipahami. Ada keinginan yang dulu belum sempat terwujud. Mungkin waktu kecil tidak ada biaya untuk masuk SSB. Mungkin tidak ada fasilitas di dekat rumah. Mungkin orang tua tidak mendukung. Atau memang tidak pernah tahu bahwa belajar sepak bola secara terstruktur itu ada.
Ketika dewasa dan kondisi sudah memungkinkan, kesempatan itu akhirnya bisa dicoba. Mimpinya tidak hilang—hanya tertunda cukup lama.
Tentu ada yang perlu diperhatikan. Tubuh orang dewasa tidak sama dengan tubuh anak-anak. Semangat boleh menggebu, tapi lutut punya hak veto. Latihan bertahap, pemanasan yang cukup, waktu pemulihan yang memadai, dan intensitas yang sesuai kemampuan fisik masing-masing menjadi hal yang tidak boleh diabaikan.
Tapi pada dasarnya, yang sedang dilakukan para bapak-bapak di lapangan itu bukan upaya untuk kembali menjadi anak-anak. Mereka hanya mengambil satu aktivitas yang dulu disukai—atau dulu diinginkan—dan menjalankannya dalam bentuk yang sesuai dengan kehidupan sekarang.
Ukuran keberhasilannya pun sederhana. Bisa rutin berolahraga setiap minggu. Menemukan teman-teman baru. Punya kegiatan yang ditunggu, bukan sekadar rutinitas yang dijalani. Belajar teknik yang dulu tidak sempat dipelajari. Dan pulang dari lapangan dengan badan capek, tapi perasaan lebih ringan.
Ukuran seperti itu memang tidak masuk laporan kinerja tahunan. Tapi bukan berarti tidak punya nilai.
Ketika kecil, banyak orang membayangkan dewasa sebagai masa ketika semua keinginan bisa terwujud—bisa beli apa saja, bisa pergi ke mana saja, bisa melakukan apa saja. Setelah benar-benar dewasa, kebebasan itu memang datang, tapi bersama pekerjaan, keluarga, tanggung jawab, dan jadwal yang terus memadati setiap harinya.
Maka ketika ada bapak-bapak yang menyisihkan waktu, memakai sepatu bola, masuk ke lapangan, dan berdiri di depan pelatih untuk belajar passing dari nol—tidak ada yang aneh dari itu. Mereka tidak sedang mengejar masa kecil yang sudah lewat. Mereka hanya, akhirnya, punya kesempatan untuk melakukan sesuatu yang dulu belum sempat dilakukan.




Tinggalkan Balasan