MAKASSAR, KETIK NALAR – Juara dunia MotoGP 2025 itu kembali datang ke Lombok, membawa luka lama yang belum sembuh—dan mungkin juga kekhawatiran yang sama.

Marc Marquez tiba di Sirkuit Internasional Mandalika untuk Grand Prix Indonesia 2026 dengan status berbeda dari tahun-tahun sebelumnya: ia adalah juara bertahan. Gelar kedelapan belum di tangan, tetapi posisinya di klasemen sementara—hanya 12 poin di bawah Jorge Martin—menempatkannya sebagai salah satu kandidat terkuat. Namun Mandalika selalu punya cara tersendiri untuk merobohkan siapa pun yang datang terlalu percaya diri.

Musim lalu, tepatnya pada Minggu, 7 Oktober 2025, pembalap bernomor 93 itu harus menelan kenyataan pahit di hadapan ribuan penonton yang memadati tribun. Sepekan sebelumnya, ia baru saja merayakan gelar juara dunia di Sirkuit Motegi, Jepang—sebuah pencapaian yang membuatnya menapak Lombok dengan kepala tegak. Tapi balapan baru berjalan satu lap ketika segalanya berantakan.

Insiden itu terjadi di Tikungan 7. Marquez yang sedang berupaya merebut posisi terdepan bersinggungan dengan Marco Bezzecchi dari Aprilia Racing. Benturan keras terjadi. Keduanya terlempar dari motor dan dinyatakan did not finish (DNF). Namun bagi Marquez, dampaknya jauh lebih serius—retak tulang selangka dan cedera bahu kanan memaksanya absen hingga akhir musim 2025.

Kejadian itu bukan yang pertama. Sejak Mandalika resmi masuk kalender MotoGP pada 2022, Marc Marquez belum pernah sekalipun mencicipi garis finis dalam balapan utama di sirkuit tepi pantai itu. Empat musim, empat kali DNF—sebuah catatan yang terlalu konsisten untuk disebut kebetulan.

Pada 2022, ketika masih membela Repsol Honda, Marquez bahkan kandas sebelum balapan dimulai. Ia mengalami crash saat sesi pemanasan dan terpaksa mundur. Setahun kemudian, nasibnya tak jauh berbeda—terjatuh di sesi sprint race pada putaran awal, lalu kembali terkapar di balapan utama setelah bertahan hingga pertengahan lomba.

Memasuki 2024, Marquez datang dengan semangat baru bersama Gresini Racing. Ia bahkan berhasil meraih podium ketiga di sprint race setelah memulai dari posisi ke-12—pencapaian yang sempat membuat pendukungnya berharap. Tapi balapan utama kembali mengkhianatinya. Pada lap ke-12, mesin Ducati Desmosedici GP23 miliknya mengeluarkan asap tebal, menyala, dan memaksanya berhenti di tepi lintasan. DNF lagi.

Empat musim, empat cerita yang berakhir sama. Tak heran jika istilah “Marc Marquez Curse” kemudian viral di media sosial—sebuah label yang melekat pada pembalap paling berbakat di generasinya, khusus untuk satu sirkuit bernama Mandalika.

Kini di musim 2026, Marquez harus kembali menghadapi tantangan itu. Kali ini, taruhannya jauh lebih besar. Gelar juara dunia kedelapan—yang akan menyamakannya dengan legenda Italia Valentino Rossi—masih dalam jangkauan, tapi juga rentan goyah jika insiden seperti musim lalu kembali terulang.

Grand Prix Indonesia yang berlangsung 9–11 Oktober menjadi salah satu seri paling menentukan dalam perebutan gelar musim ini. Dalam satu akhir pekan, total 37 poin bisa diperebutkan: 12 poin dari kemenangan sprint race dan 25 poin dari balapan utama. Selisih 12 poin antara Marquez dan Martin bisa berubah drastis hanya dalam dua hari.

Sirkuit Mandalika sendiri dikenal bukan lintasan yang ramah. Panjang 4.300 meter dengan karakter teknis dan jalur balap tunggal, ditambah angin pantai yang bisa bertiup kencang tanpa peringatan—semuanya menambah tingkat kesulitan yang sudah tinggi. Pada musim 2025, Mandalika mencatat 59 insiden kecelakaan sepanjang musim, menjadikannya sirkuit paling berbahaya ketiga di MotoGP setelah Le Mans (70 insiden) dan Assen (64 insiden).

Tikungan 5 dan 10 sering menjadi titik rawan—pembalap kerap kehilangan kendali akibat pengereman keras atau hilangnya traksi ban depan. Sementara Tikungan 15 dan 16 menuntut presisi tinggi dalam pengereman; kesalahan kecil bisa membuat motor melebar atau bahkan terkunci.

Fakta lain yang menarik: sejak Mandalika masuk kalender MotoGP, tidak ada pembalap yang berhasil menang dua kali di sirkuit yang sama. Miguel Oliveira menang di 2022, Francesco Bagnaia di 2023, Jorge Martin di 2024, dan Fermin Aldeguer—mantan rekan setim Marquez di Gresini—merebut kemenangan pada 2025. Selalu wajah baru yang naik podium teratas.

Persaingan di klasemen sementara semakin memanaskan atmosfer menjelang GP Indonesia. Jorge Martin dari Aprilia Racing memuncaki klasemen dengan 306 poin. Marquez menempel di posisi kedua. Marco Bezzecchi, yang insiden-nya dengan Marquez musim lalu sempat menuai kontroversi, kini berada di posisi ketiga dengan selisih 42 poin dari puncak.

Masih ada tujuh seri tersisa, termasuk GP Indonesia. Secara matematis, ketiganya masih punya peluang. Bos Ducati Lenovo, Stefano Domenicali, pun sudah mengingatkan bahwa juara musim ini tidak akan ditentukan semata oleh jumlah kemenangan, melainkan oleh konsistensi dari seri ke seri.

Dan konsistensi—justru itulah yang selalu gagal diwujudkan Marquez di Mandalika.

Pertanyaannya sekarang: apakah 2026 akan menjadi musim di mana kutukan itu akhirnya pupus? Atau Mandalika akan sekali lagi membuktikan bahwa ada hal-hal di luar kendali bahkan seorang juara dunia?

Jawabannya akan tersedia dalam hitungan hari.



Follow Widget