MAKASSAR, KETIK NALAR – Kota Makassar bersiap menjadi panggung besar bagi industri musik nasional. Konferensi Musik Indonesia (KMI) 2026 dijadwalkan digelar pada 27 hingga 30 Oktober 2026, membawa ratusan pelaku industri musik dari seluruh Indonesia hingga delegasi internasional ke jantung ibu kota Sulawesi Selatan itu.

Persiapan matang terus digodok. Rapat koordinasi antara Pemerintah Kota Makassar dan panitia KMI digelar di Rumah Jabatan Wali Kota Makassar pada Rabu, 30 September 2026, dipimpin langsung oleh Wali Kota Munafri Arifuddin. Pertemuan itu menjadi tonggak penting dalam memastikan seluruh lini persiapan berjalan sesuai rencana.

Koordinator Musik Indonesia, Hardinansyah Putra Siji atau yang akrab disapa Ardy Siji, menegaskan bahwa KMI 2026 bukan sekadar perhelatan seni biasa. Ini adalah program strategis nasional yang dirancang untuk mempertemukan para pelaku dan pemangku kepentingan industri musik lintas daerah, bahkan lintas negara.

Ardy memperkirakan konferensi ini akan dihadiri sekitar 500 hingga 700 delegasi musik. Mereka datang dari berbagai penjuru Indonesia, termasuk dari Makassar dan Sulawesi Selatan sendiri, serta sejumlah peserta dari luar negeri. Angka ini mencerminkan betapa besarnya skala kegiatan yang akan mewarnai Oktober di Makassar.

Selama empat hari pelaksanaan, panitia menyiapkan sekitar 20 panel diskusi. Narasumber yang hadir berasal dari kementerian, lembaga negara, hingga pelaku industri musik Indonesia yang berpengalaman. Forum diskusi ini dirancang menjadi ruang pertukaran gagasan, pengalaman, dan peluang kerja sama yang konkret.

Makassar dipilih bukan tanpa alasan. Menurut Ardy, kota ini tengah berada dalam fase pertumbuhan industri musik yang pesat. Momentum KMI 2026 dipandang sebagai kesempatan emas untuk semakin mengukuhkan posisi Makassar dalam peta ekosistem musik nasional. “Harapan kami, ini menjadi momentum juga karena Makassar sedang pesat-pesatnya industri musiknya,” ungkap Ardy.

Tak hanya konferensi, KMI 2026 juga membuka pintu lebar bagi musisi lokal Makassar. Sekitar 50 hingga 100 band diperkirakan hadir sebagai bagian dari delegasi. Dari jumlah itu, delapan band lokal Makassar yang telah melalui proses kurasi ketat mendapatkan hak istimewa: tampil di hadapan delegasi nasional dan internasional.

Kesempatan ini bukan hal kecil. Panggung KMI menjadi jembatan nyata bagi musisi Makassar untuk membangun jejaring dengan industri yang lebih luas. Para delegasi dari luar daerah pun berkesempatan mengenal dan merasakan langsung kualitas band-band unggulan asal Kota Daeng.

Secara teknis, KMI 2026 akan berlangsung di dua lokasi utama yang ikonik. Agenda konferensi dipusatkan di Hotel Claro Makassar, sementara pertunjukan musik atau showcase digelar setiap malam di kawasan Benteng Rotterdam. Kombinasi dua lokasi ini memadukan suasana profesional dengan nuansa budaya dan sejarah yang kental.

Pemerintah Kota Makassar menyambut penyelenggaraan ini sebagai peluang strategis. Kepala Dinas Pariwisata Kota Makassar, Achmad Hendra Hakamuddin, menyebut dampak KMI 2026 akan melampaui batas sektor musik semata. Kehadiran ratusan delegasi diprediksi menggerakkan roda ekonomi kota secara menyeluruh.

Hendra merinci sejumlah sektor yang berpotensi terdampak positif: tingkat hunian hotel yang meningkat, lonjakan aktivitas kuliner, hingga kunjungan ke berbagai destinasi wisata di Makassar. Ia meyakini konferensi ini akan menciptakan efek berganda yang dirasakan oleh banyak pelaku usaha lokal.

Meski KMI secara teknis merupakan kegiatan yang dipimpin Kementerian Kebudayaan dan dikoordinasikan oleh Dinas Kebudayaan di lingkup Pemkot Makassar, Dinas Pariwisata tidak tinggal diam. Dukungan aktif disiapkan sesuai kewenangan masing-masing agar penyelenggaraan berjalan lancar dan berkesan.

Bentuk dukungan Dinas Pariwisata mencakup kesiapan akomodasi bagi para tamu dan delegasi, serta penyediaan suvenir khas Makassar sebagai oleh-oleh yang memperkenalkan identitas lokal. Langkah ini sekaligus menjadi cara Makassar “menjual diri” kepada tamu dari berbagai penjuru dunia.

Dinas Pariwisata juga menyiapkan layanan informasi dan pendampingan wisata. Delegasi maupun tamu yang ingin menjelajahi Makassar lebih jauh akan mendapat panduan untuk menikmati berbagai destinasi dan potensi wisata yang tersebar di kota ini.

Hendra berharap KMI 2026 tidak hanya menempatkan Makassar sebagai kota penyelenggara semata. Lebih dari itu, ia ingin dunia melihat Makassar sebagai destinasi wisata yang layak dikunjungi sekaligus kota kreatif yang terus berkembang.

Harapan besar itu terangkum dalam satu pernyataan Hendra: KMI 2026 diharapkan memperkuat jejaring antara pelaku musik, pariwisata, ekonomi kreatif, dan sektor usaha lokal, sekaligus memberikan manfaat yang lebih luas bagi seluruh warga dan ekosistem kota. Oktober 2026, Makassar bukan hanya menjadi tuan rumah — ia siap menjadi pusat gravitasi musik Indonesia.



Follow Widget