MAKASSAR, KETIK NALAR – Tiga nama kian santer diperbincangkan di kalangan aktivis kepemudaan Sinjai, Sulawesi Selatan, menjelang perhelatan Temu Karya Karang Taruna yang dijadwalkan berlangsung pada 30 September 2026. Salah satu nama yang paling menyita perhatian adalah Muhammad Yusran, putra Bupati Sinjai Ratnawati Arif, yang dikabarkan siap terjun merebut posisi Ketua Karang Taruna Kabupaten Sinjai untuk periode 2026–2031.
Kemunculan nama Yusran bukan tanpa alasan. Latar belakangnya sebagai anak orang nomor satu di Kabupaten Sinjai tentu membawa perhatian tersendiri. Namun di panggung Temu Karya, nama besar keluarga bukan satu-satunya penentu. Organisasi kepemudaan ini menentukan pemimpinnya lewat musyawarah kader, bukan jalur warisan.
Dua penantang sudah bersiap mengimbangi. Muhammad Rum Sanusi, seorang kontraktor yang dikenal aktif di lingkungan sosial Sinjai, menjadi salah satu nama yang masuk bursa. Satunya lagi adalah Syahrul Paesa, mantan Ketua KNPI Sinjai yang kini menjabat sebagai Camat Sinjai Tengah.
Syahrul membawa modal yang tidak tipis. Pengalamannya memimpin organisasi kepemudaan di KNPI, ditambah posisinya saat ini sebagai aparatur pemerintah, dinilai menjadi kombinasi menarik oleh sejumlah kalangan. Rekam jejaknya di dua ranah berbeda — kepemudaan dan birokrasi — menjadikannya calon yang layak diperhitungkan.
Sementara itu, Muhammad Rum Sanusi membawa warna lain. Sebagai pelaku usaha yang bergerak di sektor konstruksi, ia dinilai memahami realitas lapangan dan kebutuhan nyata masyarakat. Bagi sebagian kader, pemimpin Karang Taruna yang punya jaringan ekonomi bisa menjadi aset berharga bagi keberlanjutan program organisasi.
Temu Karya Karang Taruna bukan sekadar ajang seremonial. Forum ini merupakan mekanisme musyawarah tertinggi dalam struktur organisasi sosial kepemudaan Karang Taruna di setiap tingkatan. Di sinilah arah organisasi ditentukan, kepengurusan baru ditetapkan, dan program kerja lima tahun ke depan dirumuskan.
Ketua Karang Taruna Sinjai, Firdaus, membenarkan bahwa sejumlah nama telah beredar luas menjelang pelaksanaan forum tersebut. Menurutnya, kondisi itu adalah hal yang lumrah dan menjadi pertanda bahwa perhatian terhadap organisasi tengah tumbuh.
“Temu Karya sementara dalam proses persiapan panitia. Insyaallah tanggal 30 September,” ujarnya. Firdaus berharap forum itu tidak hanya berjalan tertib, tetapi juga menghasilkan kepengurusan yang benar-benar mampu bekerja dan berdampak. “Semoga Karang Taruna ke depan bisa memberikan kontribusi positif dalam pembangunan di Kabupaten Sinjai,” katanya.
Sekretaris Karang Taruna Sinjai, Zainal Abidin, menegaskan bahwa Temu Karya adalah momentum krusial bagi keberlangsungan organisasi. Ia menyebut forum ini sebagai pintu masuk bagi babak baru Karang Taruna Sinjai.
“Forum ini menjadi momentum untuk menentukan kepengurusan Karang Taruna Sinjai periode 2026–2031,” kata Zainal saat ditemui di Jalan Tondong, Sinjai Utara. Ia tidak menampik bahwa dinamika mengenai nama-nama calon ketua sudah menjadi perbincangan hangat di internal kader.
Baginya, kemunculan beberapa nama justru mencerminkan antusiasme yang sehat. “Setiap kader maupun pihak yang memiliki perhatian terhadap Karang Taruna memiliki kesempatan untuk berkontribusi dalam organisasi,” ujarnya.
Zainal menekankan pentingnya proses yang berjalan sesuai mekanisme organisasi dan mengedepankan kepentingan bersama, bukan kepentingan kelompok. Ia berharap siapa pun yang terpilih nanti benar-benar hadir untuk menggerakkan Karang Taruna dari dalam.
“Yang paling penting bagaimana Temu Karya ini bisa berjalan dengan baik dan menghasilkan kepengurusan yang mampu membawa Karang Taruna semakin aktif memberikan kontribusi kepada masyarakat,” katanya menutup pernyataan.
Dengan tiga kandidat yang masing-masing membawa latar belakang berbeda — koneksi politik, pengalaman organisasi, hingga jaringan ekonomi — Temu Karya Karang Taruna Sinjai pada 30 September mendatang diprediksi bakal berlangsung dinamis. Para kader akan dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah: menentukan siapa yang paling layak memimpin organisasi kepemudaan terbesar di tingkat kabupaten ini selama lima tahun ke depan.
Karang Taruna, sebagai organisasi yang lahir dari dan untuk masyarakat, membutuhkan pemimpin yang tidak hanya punya nama besar, tetapi juga punya komitmen nyata untuk turun ke lapangan dan menyentuh persoalan yang dihadapi generasi muda Sinjai.




Tinggalkan Balasan