SINJAI, KETIK NALAR – Ratusan kader berbaju putih turun ke Pasar Sentral Bawah Sinjai pada Minggu, 20 September 2026. Mereka bukan berdagang atau berbelanja, melainkan mengangkat sapu, menyiapkan kantong sampah, dan membersihkan sudut-sudut pasar yang selama ini luput dari perhatian. Itulah wajah Gerakan Indonesia ASRI yang digelar DPC Partai Gerindra Kabupaten Sinjai.
Gerakan Indonesia ASRI — akronim dari Aman, Sehat, Resik, dan Indah — bukan sekadar ajang bersih-bersih seremonial. Program ini merupakan tindak lanjut langsung dari arahan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gerindra kepada seluruh jajaran daerah di Indonesia untuk turun ke ruang publik dan menunjukkan kepedulian nyata terhadap lingkungan.
Di Sinjai, kegiatan ini dipusatkan di Pasar Sentral Bawah, salah satu pusat aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat yang paling sibuk di kabupaten tersebut. Pemilihan lokasi ini bukan tanpa alasan. Pasar adalah titik temu ribuan orang setiap harinya, dan kondisi kebersihannya kerap menjadi cerminan kualitas lingkungan hidup suatu daerah.
Seluruh pengurus DPC Partai Gerindra Kabupaten Sinjai hadir dalam kegiatan ini, bersama organisasi-organisasi sayap partai. Mereka mengenakan kaos putih seragam dan datang membawa perlengkapan kebersihan masing-masing, siap bergerak bersama dari pagi hari.
Ketua DPC Partai Gerindra Kabupaten Sinjai, Hj. Ratnawati Arif, memimpin langsung aksi tersebut. Baginya, Gerakan Indonesia ASRI memiliki makna yang jauh lebih dalam dari sekadar membersihkan sampah di pasar.
Ratnawati menegaskan bahwa kegiatan ini adalah bentuk konkret dari semangat kebersamaan yang ingin dibangun oleh partai bersama masyarakat. Kader Gerindra, menurutnya, tidak boleh hanya hadir saat musim kampanye atau dalam momen-momen politik semata.
“Gerindra ingin hadir bersama masyarakat, bukan hanya dalam momentum politik, tetapi juga dalam kegiatan sosial yang memberikan manfaat nyata,” kata Ratnawati. Pernyataan itu menjadi semacam penegasan bahwa partai berupaya membangun relevansi di luar kalender pemilu.
Ratnawati juga menyoroti pentingnya menjaga kebersihan pasar sebagai tanggung jawab kolektif. Selama ini, beban menjaga kebersihan ruang publik kerap sepenuhnya disandarkan pada pemerintah dan petugas kebersihan. Padahal, ruang publik seperti pasar adalah milik bersama dan membutuhkan kepedulian semua pihak.
“Menjaga kebersihan pasar bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau petugas kebersihan, tetapi membutuhkan kepedulian kita semua,” ujarnya. Pernyataan sederhana itu menyentuh inti dari persoalan lingkungan yang sering dihadapi banyak kota dan kabupaten di Indonesia.
Pasar Sentral Bawah Sinjai sendiri merupakan kawasan yang setiap hari dipadati pedagang dan pembeli dari berbagai penjuru kabupaten. Kondisi pasar yang bersih dan nyaman bukan hanya soal estetika, tetapi juga berdampak langsung pada kesehatan masyarakat, kenyamanan pedagang, dan daya tarik pengunjung.
Aksi bersih-bersih pagi itu menjadi pemandangan yang menarik perhatian banyak pedagang dan warga yang tengah beraktivitas di pasar. Para kader Gerindra yang biasanya dikenal dalam kapasitas politik, kali ini hadir dengan tangan yang memegang sapu dan kantong sampah — sebuah simbolisme yang cukup kuat.
Kehadiran seluruh jajaran pengurus hingga kader akar rumput dalam satu kegiatan sosial juga menunjukkan soliditas internal partai. Dalam kegiatan seperti ini, perbedaan jabatan seolah lebur; semua memegang peralatan kebersihan yang sama dan bekerja bahu-membahu.
Ratnawati menyampaikan harapannya agar Gerakan Indonesia ASRI tidak menjadi kegiatan yang berhenti pada satu hari itu saja. Ia menekankan pentingnya menjadikan semangat menjaga kebersihan sebagai bagian dari keseharian masyarakat Sinjai, bukan hanya sebagai momen insidental yang dilakukan sekali lalu dilupakan.
“Harapan kami, kegiatan ini tidak berhenti pada hari ini saja. Semangat menjaga kebersihan harus terus kita tumbuhkan dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya. Ia berharap gerakan ini bisa menginspirasi lebih banyak elemen masyarakat untuk ikut ambil bagian dalam menjaga lingkungan.
Dalam konteks yang lebih luas, Gerakan Indonesia ASRI yang digulirkan DPP Gerindra sejatinya adalah bagian dari upaya partai untuk membangun citra sebagai kekuatan politik yang tidak melupakan fungsi sosialnya. Di tengah maraknya kritik terhadap partai-partai yang dianggap hanya aktif saat menjelang pemilu, langkah turun langsung ke pasar ini bisa dibaca sebagai respons atas tuntutan masyarakat akan kehadiran partai yang lebih substantif.
Bagi Kabupaten Sinjai sendiri, momentum ini diharapkan menjadi pemantik semangat gotong royong yang lebih luas. Gotong royong bukanlah konsep asing bagi masyarakat Indonesia, namun dalam kehidupan urban dan semi-urban yang semakin individualistis, nilai itu kadang membutuhkan dorongan dari gerakan kolektif seperti ini untuk kembali hidup.
Pasar Sentral Bawah Sinjai pada Minggu pagi itu menjadi saksi bahwa kepedulian terhadap lingkungan bisa dimulai dari langkah kecil — menyapu, memungut sampah, dan hadir secara fisik di tengah masyarakat. Gerindra Sinjai telah mengambil langkah itu. Kini, pertanyaannya adalah apakah semangat itu akan terus menyala jauh setelah kaos putih kembali disimpan di lemari.


Tinggalkan Balasan