JAKARTA, KETIK NALAR – Pemerintah membuka peluang besar bagi peternak rakyat untuk menjadi bagian dari ekosistem program makan bergizi gratis. Kementerian Pertanian kini tengah merancang kebijakan yang memungkinkan hasil produksi unggas lokal langsung terserap ke dapur-dapur program MBG yang tersebar di seluruh penjuru negeri.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, menyampaikan hal tersebut di Jakarta, Minggu, 20 September 2026. Ia menegaskan bahwa pihaknya sedang memfinalisasi kebijakan untuk mengoptimalkan penyerapan produk peternakan rakyat dalam kebutuhan program MBG.
Menurut Agung, penyerapan itu diharapkan dapat terhubung langsung dengan peternak yang berlokasi di sekitar dapur program. Dengan pola kedekatan geografis ini, distribusi produk unggas bisa berlangsung lebih efisien dan biaya logistik bisa ditekan.
Kementerian Pertanian memang telah lama mendorong penguatan ekosistem perunggasan nasional. Namun kini, kehadiran program MBG memberikan momentum baru yang membuat urgensi keterhubungan antara produksi dan pasar semakin tidak bisa ditunda.
Salah satu infrastruktur kunci yang disorot Agung adalah Rumah Potong Hewan Unggas atau RPHU. Fasilitas ini dinilai mampu menjadi jembatan antara peternak dan kebutuhan karkas ayam untuk program MBG.
“RPHU inilah yang diharapkan bisa mensuplai karkas ayamnya untuk program MBG, salah satunya,” ujar Agung. Pernyataan ini memperjelas bahwa pemerintah tidak hanya bicara soal produksi, tetapi juga memikirkan jalur distribusi yang terstruktur.
Agung menilai potensi industri perunggasan nasional masih sangat besar untuk dikembangkan. Namun potensi itu baru akan bermakna jika produksi yang ada mampu terhubung dengan permintaan pasar secara nyata dan berkelanjutan.
“Kebutuhan per kapita kita juga masih bisa terus kita tingkatkan, tinggal bagaimana kita mensinergikan antara produksi dengan kebutuhan, antara suplai dengan demand,” kata Agung. Ia menekankan bahwa keseimbangan nilai antara suplai dan permintaan harus terus didorong bersama.
Lebih dari sekadar soal produksi, pemerintah juga menaruh perhatian pada tata kelola dan infrastruktur rantai pasok secara keseluruhan. Tanpa dukungan infrastruktur yang memadai, konektivitas antara kandang peternak dan meja makan program MBG akan tetap terputus.
Dalam kerangka itulah, peternak rakyat tidak hanya didorong untuk meningkatkan jumlah produksi semata. Mereka juga didorong untuk mendapatkan akses yang lebih kuat dalam ekosistem usaha perunggasan, mulai dari hulu hingga hilir.
Agung mengingatkan bahwa arah kebijakan Kementan mengacu pada arahan Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman. Prinsip yang dipegang adalah menjaga keseimbangan kepentingan di seluruh ekosistem, agar tidak ada pihak yang dirugikan.
“Pada prinsipnya pemerintah ini sedang berupaya untuk menjaga keseimbangan semuanya,” kata Agung mengutip arahan sang menteri. Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa kepentingan peternak kecil tidak akan dikalahkan oleh dominasi perusahaan besar dalam rantai pasok MBG.
Salah satu fokus yang paling ditekankan Agung adalah penguatan posisi peternak mandiri. Selama ini, peternak mandiri kerap berada di posisi yang lemah karena hanya berperan sebagai pemasok bahan baku tanpa memiliki kendali atas rantai nilai di hilir.
Kementan ingin mengubah kondisi itu. Peternak mandiri didorong untuk bukan sekadar memproduksi, melainkan menjadi pelaku usaha perunggasan yang sesungguhnya, dengan akses pasar, posisi tawar yang lebih baik, dan kesempatan untuk menikmati nilai tambah dari usaha mereka.
“Kita berjuang maksimal untuk terus mengangkat kesejahteraan para peternak kita. Khususnya para peternak mandiri, agar mereka bisa menjadi tuan rumah, bisa menjadi pelaku usaha perunggasan, dan bisa menikmati usaha perunggasan kita dengan sebaik-baiknya,” tegas Agung.
Langkah ini sejalan dengan semangat program MBG yang tidak hanya bertujuan memperbaiki gizi masyarakat penerima manfaat, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal. Jika peternak rakyat benar-benar masuk ke dalam rantai pasok resmi MBG, dampaknya akan terasa hingga ke level akar rumput.
Program makan bergizi gratis kini bukan sekadar agenda sosial. Ia sedang menjelma menjadi mesin penggerak ekonomi pedesaan, dan peternak rakyat disiapkan untuk menjadi salah satu aktor utamanya.


Tinggalkan Balasan