MAKASSAR, KETIK NALAR – Ratusan pegawai dan jajaran direksi Perumda Air Minum Kota Makassar turun langsung ke lapangan, membersihkan saluran air baku di Jalan Abdul Dg Sirua, Makassar, Jumat (25/9/2026). Bukan sekadar bersih-bersih biasa — ini adalah pernyataan sikap sebuah perusahaan air minum bahwa kebersihan sumber air adalah urusan semua orang, dari direktur hingga staf terbawah.
Kerja bakti yang dipimpin langsung Plt Direktur Utama Perumda Air Minum Kota Makassar, Andi Syahrum, ini melibatkan seluruh pejabat struktural dan staf pegawai perusahaan. Mereka bergerak bersama menyisiri sejumlah titik di sepanjang saluran, mengangkat tumpukan sampah dan material yang berpotensi mengganggu kondisi lingkungan sekitar.
Pemandangan hari itu cukup menarik perhatian. Para pejabat yang biasa bekerja di balik meja turun ke pinggir saluran, mengangkat sampah bersama rekan-rekan staf mereka. Tidak ada jarak hierarki di lapangan — semua memegang alat kebersihan dengan tangan yang sama.
Saluran air baku di Jalan Abdul Dg Sirua adalah salah satu titik penting dalam sistem distribusi air minum Kota Makassar. Kondisi saluran yang bersih dan tidak tersumbat berpengaruh langsung pada kualitas lingkungan di kawasan tersebut, sekaligus menjadi bagian tak terpisahkan dari rantai pelayanan air kepada masyarakat.
Andi Syahrum menegaskan bahwa kegiatan ini bukan rutinitas seremonial semata. Menurutnya, kebersihan saluran air baku merupakan fondasi dari kualitas pelayanan yang selama ini diemban Perumda kepada warga Makassar.
“Ini merupakan bentuk kepedulian kita bersama. Kebersihan saluran air baku perlu dijaga, karena lingkungan yang bersih dan terawat juga menjadi bagian dari upaya mendukung pelayanan air minum kepada masyarakat,” ujar Andi Syahrum di sela kegiatan.
Pernyataan itu bukan sekadar retorika. Dalam praktiknya, sampah dan material yang menumpuk di sekitar saluran air baku tidak hanya mengganggu estetika kawasan, tetapi juga dapat berdampak pada aliran air dan kondisi lingkungan yang lebih luas. Pembersihan rutin menjadi langkah preventif yang jauh lebih murah dibanding penanganan pascamasalah.
Andi Syahrum juga menyentuh soal budaya kerja. Ia ingin kerja bakti seperti ini tidak selesai sebagai peristiwa satu hari, melainkan menjadi pemantik kesadaran kolektif yang terus tumbuh di lingkungan internal perusahaan.
“Yang paling penting adalah membangun kesadaran bersama untuk menjaga lingkungan. Kerja bakti ini menjadi momentum untuk mengingatkan kita bahwa kebersihan merupakan tanggung jawab bersama,” tegasnya.
Pesan itu relevan di tengah tantangan pengelolaan lingkungan perkotaan yang semakin kompleks. Kota-kota besar seperti Makassar kerap berhadapan dengan masalah sampah yang tak kunjung tuntas, dan saluran-saluran air menjadi salah satu korban paling nyata dari rendahnya kesadaran membuang sampah pada tempatnya.
Dengan melibatkan seluruh lapisan karyawan — dari direksi, pejabat struktural, hingga staf biasa — Perumda Air Minum Kota Makassar mengirimkan sinyal penting: kepedulian terhadap lingkungan tidak bisa didelegasikan hanya kepada petugas kebersihan. Ia harus menjadi nilai bersama yang dihidupi oleh setiap individu dalam organisasi.
Langkah ini sejatinya juga sejalan dengan amanat yang diemban Perumda sebagai perusahaan yang bergerak di bidang penyediaan air bersih. Kualitas lingkungan di sekitar infrastruktur air baku secara langsung mencerminkan komitmen perusahaan terhadap standar layanan yang mereka janjikan kepada pelanggan.
Di sisi lain, keterlibatan pimpinan tertinggi dalam kegiatan seperti ini memiliki efek simbolis yang kuat. Ketika seorang direktur tak segan turun ke saluran dan mengangkat sampah bersama bawahannya, pesan yang sampai ke seluruh pegawai jauh lebih kuat dibanding sekadar instruksi tertulis atau kebijakan perusahaan.
Kegiatan ini juga menjadi cermin dari pendekatan manajemen yang partisipatif — bahwa pemimpin yang baik tidak hanya memberi arahan dari atas, tetapi bersedia hadir dan terlibat dalam pekerjaan-pekerjaan yang tampak sederhana sekalipun.
Andi Syahrum berharap momentum kerja bakti ini dapat dijaga keberlangsungannya. Bukan hanya sebagai agenda periodik, melainkan sebagai bagian dari identitas budaya kerja Perumda Air Minum Kota Makassar yang peduli terhadap lingkungan dan masyarakat yang dilayaninya.
Kegiatan di Jalan Abdul Dg Sirua itu mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Namun dampak dari kebiasaan yang dibangun di baliknya bisa jauh lebih panjang — selama kesadaran itu terus dijaga dan tidak berhenti di hari Jumat itu saja.




Tinggalkan Balasan