SINJAI, KETIK NALAR – Dua menteri Kabinet Merah Putih menjadikan Masjid Agung Nujumul Ittihad Cakkempong sebagai saksi kebersamaan mereka dengan warga Sinjai, Jumat, 25 September 2026. Momen langka itu terjadi usai keduanya menuntaskan kunjungan kerja ke Kampung Nelayan Merah Putih Tongke-Tongke, salah satu program unggulan pemerintah di sektor kelautan dan perikanan.

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono dan Menteri Koperasi Ferry Juliantono kompak memilih meluangkan waktu istirahat siang mereka untuk menunaikan salat Jumat bersama masyarakat setempat. Kehadiran mereka bukan sekadar formalitas kunjungan pejabat—melainkan wujud kedekatan yang terasa langsung oleh jamaah yang memadati masjid.

Turut hadir Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Haedar Nashir, setelah Meresmikan MentariMU Mart dan Memberikan Kuliah Umum di UIAD Sinjai. Kehadirannya menambah bobot keagamaan dan nasional dari momen salat Jumat yang semula tampak seperti agenda rutin itu.

Yang menjadikan salat Jumat kali ini semakin istimewa adalah sosok khatib yang naik ke mimbar. Prof. DR. H. Muhajir Effendy, MAP, Penasehat Khusus Presiden Bidang Haji sekaligus mantan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan ke-18, yang memimpin khutbah. Sosok yang dikenal sebagai salah satu arsitek kebijakan pembangunan sumber daya manusia Indonesia itu menyapa langsung jamaah Sinjai dari atas mimbar.

Masjid Agung Nujumul Ittihad yang terletak di Kecamatan Sinjai Utara mendadak menjadi pusat perhatian. Jamaah yang hadir tidak hanya terdiri dari warga sekitar, tetapi juga para pejabat daerah yang turut mendampingi rombongan. Wakil Bupati Sinjai Andi Mahyanto Mazda bersama sejumlah kepala organisasi perangkat daerah lingkup Pemerintah Kabupaten Sinjai nampak berbaur dalam saf yang sama dengan warga biasa.

Suasana salat Jumat itu menciptakan perpaduan yang jarang terjadi: para pemimpin nasional, tokoh ormas Islam terbesar kedua di Indonesia, dan masyarakat nelayan dari ujung Sulawesi Selatan berada dalam satu ruang ibadah yang sama. Sebuah gambaran kebersamaan yang melampaui sekat jabatan dan status sosial.

Namun kontribusi rombongan tidak berhenti di doa dan khutbah. Seusai salat, para pejabat yang hadir secara simbolis menyerahkan bantuan 100 sak semen kepada pengurus masjid. Bantuan itu diperuntukkan bagi pembangunan dan revitalisasi Masjid Agung Nujumul Ittihad yang tengah dalam proses pengembangan.

Seratus sak semen memang bukan angka yang besar untuk sebuah proyek konstruksi masjid. Tetapi maknanya jauh lebih dari sekadar material bangunan. Bantuan itu menjadi simbol kepedulian pemerintah pusat terhadap fasilitas ibadah masyarakat di daerah, sekaligus pesan bahwa kunjungan kerja mereka ke Sinjai bukan hanya urusan ekonomi kelautan semata.

Kunjungan ke Kampung Nelayan Merah Putih Tongke-Tongke sebelumnya menjadi konteks penting dari seluruh rangkaian agenda hari itu. KNMP Tongke-Tongke merupakan bagian dari program pemerintah yang dirancang untuk meningkatkan taraf hidup nelayan melalui pendekatan terpadu—mulai dari infrastruktur, akses permodalan, hingga pemberdayaan koperasi.

Kehadiran Menteri Kelautan dan Perikanan di Tongke-Tongke bukan tanpa alasan. Kawasan itu dikenal sebagai salah satu sentra nelayan di Kabupaten Sinjai yang memiliki potensi besar, sekaligus menjadi lokasi percontohan program Kampung Nelayan Merah Putih di Sulawesi Selatan. Menteri Sakti ingin melihat langsung sejauh mana program itu berjalan dan apa yang masih perlu diperkuat di lapangan.

Ferry Juliantono, yang membidangi koperasi, turut menyertai kunjungan itu karena koperasi nelayan merupakan salah satu pilar utama dalam ekosistem KNMP. Integrasi antara sektor kelautan dan koperasi menjadi kunci keberhasilan program yang digadang-gadang mampu mengangkat kesejahteraan nelayan kecil ini.

Setelah agenda di Tongke-Tongke rampung, rombongan tidak langsung bertolak. Pilihan untuk salat Jumat berjamaah di Masjid Agung Nujumul Ittihad seolah menjadi penutup yang tepat dari serangkaian agenda padat di Kabupaten Sinjai. Sebuah jeda yang bermakna di tengah perjalanan kerja yang penuh tekanan.

Bagi warga Sinjai, hari Jumat itu akan lama dikenang. Tidak setiap minggu mereka berkesempatan mendengar khutbah dari seorang mantan menteri koordinator, bersaf dengan dua menteri aktif, dan menerima sumbangan langsung untuk masjid kebanggaan mereka. Momen seperti ini meninggalkan kesan yang jauh melampaui seremoni kunjungan kerja pada umumnya.

Masjid Agung Nujumul Ittihad, yang namanya berarti “bintang pemersatu”, hari itu benar-benar memainkan perannya sebagai titik temu—antara pemimpin dan rakyat, antara pusat dan daerah, antara urusan dunia dan kewajiban akhirat.



Follow Widget