MAKASSAR, KETIK NALAR – Sebuah masjid megah yang dibangun sepenuhnya dari kocek pribadi Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman kini hampir siap berdiri kokoh di Makassar. Progres fisik Masjid Hajjah Andi Nurhadi telah menyentuh angka 98 persen, dengan kubah yang sudah tertutup sepenuhnya dan pekerjaan finishing tengah berlangsung di sisa-sisa waktu menuju peresmian.

Kabar kemajuan ini disampaikan langsung oleh Rezki Mulyadi, Humas PT Tiran Grup sekaligus Direktur AAS Foundation, yang selama ini memantau langsung proses pembangunan. Ia menyebutkan bahwa tim konstruksi kini berkonsentrasi pada sentuhan akhir, baik bagian interior maupun eksterior, agar masjid benar-benar layak dan nyaman saat pertama kali dibuka untuk umum.

“Progres fisik sudah 98 persen dan kubah sudah tertutup sepenuhnya. Saat ini tim fokus pada pekerjaan finishing agar masjid segera siap digunakan,” ujar Rezki.

Berdiri di belakang Kodam XIV/Hasanuddin, Panaikang, Makassar, masjid ini mulai dibangun pada Oktober 2023 dengan nilai investasi mencapai Rp1 triliun. Angka yang fantastis itu sepenuhnya berasal dari kantong pribadi Amran, tanpa satu rupiah pun dari sponsor atau pihak ketiga mana pun.

Rezki menegaskan bahwa proyek ini adalah murni wakaf pribadi sang menteri. “Tidak ada satu rupiah pun dana sponsor di dalamnya. Ini murni wakaf pribadi Bapak Amran untuk umat,” katanya dengan tegas.

Masjid yang mampu menampung hingga 20 ribu jemaah sekaligus ini dipersembahkan Amran sebagai bentuk penghormatan kepada ibundanya, Hj. Andi Nurhadi. Sejak peletakan batu pertama dua tahun lalu, Amran telah menyatakan harapannya agar masjid ini kelak menjadi pusat peradaban Islam di kawasan Indonesia Timur, bahkan menjadi kebanggaan dunia.

Target rampungnya bukan tanpa batas waktu. Rezki memastikan bahwa masyarakat sudah bisa memanfaatkan masjid ini paling lambat pada 2027. “Kami berupaya maksimal agar umat bisa segera beribadah di sini. Target kami, paling lambat tahun 2027 masjid sudah dapat difungsikan,” jelasnya.

Namun masjid ini bukan sekadar bangunan ibadah biasa. Rezki menjelaskan bahwa visi Amran jauh lebih besar dari sekadar mendirikan tempat salat yang megah. Masjid ini dirancang sebagai pusat kegiatan keumatan bagi seluruh masyarakat Sulawesi Selatan dan Kawasan Timur Indonesia, sebuah ruang yang hidup dan terus bergerak memberi manfaat.

“Bapak Amran ingin masjid ini hidup dan memberi manfaat luas bagi umat, bukan sekadar bangunan megah,” tutur Rezki.

Cita-cita membangun masjid ini tidak lahir tiba-tiba. Ia adalah bagian dari perjalanan panjang filantropi Amran yang telah mengakar sejak ia masih merintis usaha sebagai pengusaha muda asal Sulawesi Selatan. Prinsip hidupnya sederhana namun kuat: rezeki yang diperoleh harus kembali kepada mereka yang membutuhkan.

“Sejak awal merintis usaha, Bapak selalu berpesan bahwa ukuran kesuksesan bukan seberapa besar harta yang dimiliki, melainkan seberapa banyak orang kecil yang terbantu,” ungkap Rezki.

Prinsip itu kemudian diwujudkan secara terstruktur. Setelah tidak lagi menjabat sebagai Menteri Pertanian pada 2019, Amran mendirikan AAS Foundation, sebuah yayasan yang dirancang untuk menjalankan program filantropi secara berkelanjutan dan terencana, bukan sekadar bantuan sporadis.

“AAS Foundation lahir dari keinginan Bapak agar kepedulian kepada masyarakat miskin berjalan terencana dan berkelanjutan,” jelas Rezki.

Selepas menanggalkan jabatan menteri, bisnis Amran justru semakin menguat. Pertumbuhan usahanya yang semakin kokoh itulah yang kemudian sebagian hasilnya ia wakafkan untuk pembangunan masjid ini. Rezki menyebut bahwa komitmen sosial Amran bukan sesuatu yang baru muncul setelah sukses, melainkan sudah menjadi napas dari cara ia mengelola bisnis sejak lama.

Ada satu kisah yang kerap disebut Rezki sebagai bukti nyata integritas Amran. Saat pertama kali dilantik sebagai Menteri Pertanian pada 2014, Amran mengambil keputusan yang mengejutkan banyak pihak: ia menutup perusahaan racun tikusnya sendiri, TIRAN (Tikus Diracun Amran), yang saat itu tengah berada di puncak pertumbuhannya.

Perusahaan itu adalah tulang punggung bisnisnya. Namun Amran memilih menutupnya demi menghindari konflik kepentingan dengan jabatannya sebagai pejabat negara yang mengurusi sektor pertanian. Sebuah pilihan yang tidak mudah, tetapi mencerminkan prinsip yang ia pegang teguh.

“Beliau sangat menjaga batas antara bisnis dan tanggung jawabnya sebagai pejabat negara. Menutup usaha yang sedang tumbuh bukan keputusan mudah, tetapi beliau melakukannya demi menghindari konflik kepentingan,” tegas Rezki.

Kini, hampir satu dekade setelah keputusan itu, Amran kembali mengukir cerita yang berbeda. Bukan lagi soal menutup bisnis, melainkan membuka sebuah rumah ibadah untuk puluhan ribu jemaah, dibangun dari hasil kerja kerasnya sendiri, sebagai warisan abadi atas nama sang ibu.

Masjid Hajjah Andi Nurhadi bukan hanya tentang kubah dan marmer. Ia adalah tentang seorang anak yang ingin mengabadikan nama ibunya dalam balutan doa jutaan orang, tentang seorang pengusaha yang percaya bahwa kekayaan sejati diukur dari seberapa banyak ia bisa memberi. Dan di Panaikang, Makassar, bangunan itu kini hampir berdiri sempurna.



Follow Widget