TORAJA UTARA, KETIK NALAR – Teror pembunuhan yang menimpa warga asal Toraja di Papua Pegunungan akhirnya melampaui batas toleransi. Aparatur sipil negara (ASN) asal Toraja Utara yang bertugas di sana kini berbondong-bondong mengajukan permohonan pindah tugas ke kampung halaman mereka di Sulawesi Selatan.
Gelombang permohonan itu mencuat ke permukaan setelah peristiwa tragis yang menimpa Aris Sanda, warga asal Lembang Tampan Bonga, Kecamatan Bangkelekila, Toraja Utara. Pria yang berprofesi sebagai sopir travel rute Wamena-Nduga itu ditembak lalu dibakar hidup-hidup di dalam mobilnya sendiri.
Kejadian mengerikan itu terjadi pada Selasa, 15 September 2026, di Jalan Trans Wamena-Nduga, Papua Pegunungan. Aris sedang dalam perjalanan mengantar penumpangnya ketika nahas menghampiri — peluru menembus tubuhnya, dan api melalap kendaraan bersama jasadnya.
Bupati Toraja Utara, Frederik Victor Palimbong, menyebut kasus Aris Sanda sebagai puncak dari rangkaian panjang kekerasan yang telah lama menghantui komunitas Toraja di Papua. Bukan kejadian pertama, bukan pula yang kedua — dan itulah yang membuat kepanikan kali ini terasa jauh lebih dalam.
“Sampai saat ini ya kita banyak menerima pengajuan untuk pindah bekerja,” kata Frederik saat menghadiri prosesi pemakaman Aris Sanda di Tongkonan Kalintiong, Kecamatan Bangkelekila, Rabu, 23 September 2026.
Pernyataan itu singkat, namun sarat makna. Dalam satu kalimat, Bupati Frederik merangkum ketakutan kolektif yang kini membayangi ratusan warga Toraja yang masih bertahan bekerja di tanah Papua.
Toraja dan Papua memiliki hubungan panjang yang erat. Selama beberapa dekade, warga Toraja telah merantau ke berbagai penjuru Papua untuk bekerja — mulai dari sektor pemerintahan, perdagangan, hingga jasa transportasi seperti yang dijalani Aris Sanda. Mereka membangun kehidupan, membentuk komunitas, dan menjadi bagian dari denyut ekonomi lokal Papua.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, kondisi keamanan di sejumlah wilayah Papua — terutama di kawasan pegunungan — semakin memburuk. Kelompok bersenjata yang beroperasi di wilayah pedalaman kerap menyasar warga sipil tanpa pandang bulu, termasuk para pendatang dari luar Papua.
Warga Toraja menjadi salah satu kelompok yang paling sering menjadi korban. Nama-nama mereka tercatat dalam daftar panjang tragedi yang nyaris tak pernah benar-benar terselesaikan secara tuntas.
Aris Sanda bukan sekadar nama dalam daftar itu. Ia adalah anak, saudara, dan tetangga bagi ribuan warga Bangkelekila yang mengenalnya. Kepulangannya dalam peti mati membawa duka yang tak hanya dirasakan keluarga, tetapi menggetarkan seluruh komunitas Toraja Utara.
Prosesi pemakaman yang digelar di Tongkonan Kalintiong pada Rabu, 23 September 2026, menjadi momen yang menyatukan kesedihan sekaligus kemarahan. Di sanalah Bupati Frederik hadir — bukan hanya sebagai pejabat, tetapi sebagai bagian dari komunitas yang berduka.
Pengajuan pindah tugas dari para ASN itu mencerminkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar keputusan administratif. Ini adalah sinyal nyata bahwa rasa aman — kebutuhan paling mendasar manusia — telah lama absen dari kehidupan warga Toraja di Papua Pegunungan.
Para ASN tersebut bukan orang-orang yang mudah menyerah. Mereka telah bertahun-tahun mengabdi di wilayah terpencil dengan segala keterbatasan infrastruktur, jauh dari keluarga, dan minim fasilitas. Namun ada satu hal yang tidak bisa mereka kompromikan: nyawa mereka sendiri.
Permohonan pindah tugas itu kini berada di meja Bupati Frederik. Keputusan akhir tentu tidak semudah membalik telapak tangan — ada prosedur birokrasi, ada kebutuhan daerah pengirim dan penerima yang harus dipertimbangkan. Namun secara moral, tekanan untuk mengabulkan permohonan itu semakin sulit diabaikan.
Di sisi lain, situasi ini menempatkan pemerintah pusat di persimpangan penting. Keamanan warga negara Indonesia di seluruh penjuru wilayah — termasuk di Papua Pegunungan — adalah tanggung jawab yang tidak bisa terus-menerus ditunda penyelesaiannya.
Kematian Aris Sanda seharusnya menjadi alarm keras. Bukan hanya bagi aparat keamanan yang bertugas di sana, tetapi bagi seluruh pemangku kebijakan yang selama ini terlalu sering memandang konflik Papua dari balik meja di Jakarta.
Sementara itu, komunitas Toraja di berbagai daerah mulai bergerak. Solidaritas mengalir — baik dalam bentuk doa, bantuan untuk keluarga korban, maupun desakan agar pemerintah mengambil langkah konkret melindungi warga Toraja yang masih berada di Papua.
Pertanyaan besarnya kini bukan lagi soal siapa pelaku penembakan Aris Sanda — meski itu tetap harus diusut tuntas. Pertanyaan yang lebih mendesak adalah: seberapa lama warga sipil harus terus menanggung beban konflik yang bukan mereka ciptakan?
Aris Sanda telah pulang, meski bukan dengan cara yang diinginkan siapapun. Kini giliran negara membuktikan bahwa kepulangannya tidak sia-sia.




Tinggalkan Balasan