SOLOK, KETIK NALAR – Banjir bandang menerjang kawasan pusat pemerintahan Kabupaten Solok, Sumatera Barat, tepat setelah waktu Magrib pada Senin malam. Bukan sekadar genangan biasa — banjir yang oleh warga setempat disebut galodo ini membawa material batu besar dan kayu, menghantam kantor-kantor pemerintahan, merusak kendaraan, dan memutus total jalur nasional yang menghubungkan Kota Padang dengan Kabupaten Solok.

Bupati Solok, John Firman Pandu, yang dihubungi langsung oleh Kompas TV di tengah situasi genting itu, mengungkapkan bahwa sebelum kejadian, wilayah Solok sempat mengalami musim kering yang cukup panjang. Beberapa pekan terakhir, hujan mulai turun, hingga pada Senin malam curah hujannya sangat lebat dan tiba-tiba banjir bandang datang tanpa peringatan yang cukup jelas.

Kawasan yang paling terdampak adalah Kecamatan Gunung Talang, tepatnya di Nagari Batang Barus, Jorong Kayu Aro, Arosuka — yang tak lain adalah lokasi kompleks perkantoran pemerintah Kabupaten Solok berada. Ironisnya, gedung-gedung yang seharusnya menjadi pusat koordinasi penanggulangan bencana justru menjadi korban pertama dari terjangan galodo tersebut.

Sejumlah kantor dinas dilaporkan terdampak langsung, di antaranya Dinas Pekerjaan Umum (PU), Dinas Kesehatan, Badan Kepegawaian Daerah (BKD), Bapelitbang, hingga gedung DPRD Kabupaten Solok. Material berupa batu-batu besar masuk ke dalam area perkantoran, merusak peralatan kantor yang terseret arus deras. Bupati menggambarkan kondisi bangunan mengalami kerusakan di beberapa bagian, sementara banyak perlengkapan kantor ikut terbawa arus karena posisi kompleks pemerintahan berada di lereng yang memudahkan air mengalir masuk.

Kantor Bupati Solok sendiri ternyata berdiri sangat dekat dengan aliran sungai kecil yang berada tepat di samping gedung DPRD, di sekitar kawasan Restoran Kayu Aro. Dalam kondisi normal, aliran air di sungai itu tidak pernah besar. Namun pada malam itu, debit air melonjak drastis disertai material batu dan kayu yang menambah daya rusak banjir bandang.

Jalur nasional Trans-Sumatera di Km 20, yang menjadi penghubung vital antara Padang dan Solok, lumpuh total tertutup material bebatuan. Para pengguna jalan yang saat itu sedang melintas tampak berlarian menyelamatkan diri saat arus banjir datang. Sejumlah kendaraan dilaporkan terseret arus, meski pemiliknya berhasil menyelamatkan diri. Seorang pemilik mobil yang kendaraannya tertimpa reruntuhan dinyatakan selamat.

Pemerintah Kabupaten Solok melalui Dinas Kehutanan segera mengeluarkan imbauan kepada masyarakat agar tidak melintas di jalur Padang–Solok hingga situasi dinyatakan aman. Warga yang harus bepergian antara dua wilayah itu disarankan menggunakan jalur alternatif melalui Lembah Anai atau memutar lewat Padang Panjang.

Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD langsung diterjunkan ke lokasi bersama unsur TNI, Polri, dan Dinas Pemadam Kebakaran. Bupati John Firman Pandu menyebut pihaknya juga memobilisasi sekitar tujuh unit alat berat dari Dinas PU untuk membersihkan material batu yang menutup jalan nasional. Namun kendala sempat muncul terkait ketersediaan bahan bakar untuk operasional alat berat, sehingga pihak pemkab berkoordinasi dengan SPBU setempat untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar tersebut.

Hingga tengah malam, proses evakuasi warga yang terdampak masih terus berlangsung. Pos komando darurat didirikan di dekat area kantor bupati, melibatkan koordinasi lintas instansi. Bupati mengonfirmasi bahwa hingga laporan terakhir diterima, belum ada korban jiwa yang dilaporkan. Beberapa warga mengalami luka-luka, meski data rincinya masih dikumpulkan oleh tim di lapangan.

Permukiman warga di bawah kompleks kantor bupati turut menjadi perhatian serius. TRC dan tim gabungan bergerak menelusuri kondisi rumah-rumah yang berdiri di sekitar kawasan tersebut. Beberapa unit rumah dilaporkan mengalami kerusakan akibat terjangan batu dan arus banjir. Pemkab tengah mendata jumlah pasti rumah yang terdampak.

Kondisi di lokasi bencana semakin menantang karena terjadi pemadaman listrik dan gangguan jaringan komunikasi. Bupati mengingatkan seluruh warga, khususnya yang bermukim di tepi sungai dan lereng bukit, untuk tetap waspada dan sementara waktu menjauhi lokasi rawan tersebut. Ia menegaskan bahwa hujan masih turun meski intensitasnya sudah berkurang, sehingga potensi banjir susulan tidak bisa diabaikan.

Terkait pelayanan publik esok harinya, Bupati John Firman Pandu menyatakan pihaknya akan melakukan evaluasi terlebih dahulu. Layanan administrasi kependudukan kemungkinan tidak terlalu terdampak, namun layanan keuangan daerah dan beberapa layanan publik lainnya berpotensi terganggu mengingat sejumlah kantor dinas mengalami kerusakan signifikan.

Bencana ini menjadi pengingat keras bahwa wilayah Sumatera Barat, dengan kondisi geografisnya yang berbukit dan dilintasi banyak aliran sungai, selalu menyimpan potensi bencana hidrometeorologi yang bisa datang kapan saja. Pola musim kering panjang yang diikuti hujan lebat dalam waktu singkat kerap menjadi pemicu galodo yang mematikan. Kesiapsiagaan warga dan sistem peringatan dini yang andal menjadi dua hal yang tidak bisa lagi ditawar.



Follow Widget